Author Archive

Di sebuah desa kecil, di puncak bukit. Ada gereja tua berdiri menyempit. Pintu dan jendelanya ditiup angin berderit. Gedungnya sudah lapuk. Atapnya sudah buruk. Di sana hanya ada satu pendeta tua. Yang sudah melayani sejak masa ia masih muda.

Minggu pagi itu, badai mengamuk. Kilat menyambar, guntur menggelegar, petir menyeruduk. Hujan lebat membasahi dari puncak sampai lubuk, dari gunung sampai teluk. Ibadah baru usai, jemaat enggan pulang masih bersantai. Lalu percakapan ini pun dimulai:

Seorang penyambut tamu mengeluh. “Jadi penyambut tamu tidaklah mudah. Kamu harus selalu tersenyum, menyapa jemaat yang datang, menjabat tangan, dan mengantarkan mereka dengan ramah. Bagaimana kalau aku sedang tidak dalam mood yang baik hari ini? Bagaimana kalau aku sedang tidak berniat tersenyum gara-gara aku tidak sempat sarapan karena terlambat bangun pagi. Masakan aku yang direktur ini harus memasang wajah munafik dan tersenyum palsu sama orang-orang yang kasta sosial-ekonominya lebih rendah? ‘Selamat pagi! Tuhan memberkati! Selamat beribadah’ Idih, amit-amit, dah! Padahal jika di luar, aku bertemu dengan tetanggaku yang segereja, boro-boro menyapa dan menjabat tangan. Aku tentu pura-pura tidak melihat atau sebisa mungkin memutar jalan. Pelayanan boleh, asalkan aku tetap dihormati dan disegani sesuai dengan jabatan!”

Seorang kolektan persembahan menimpali. “Jadi kolektan itu lebih makan hati. Kamu harus berkeliling-keliling gereja untuk mengumpulkan uang yang bukan untuk kamu pribadi. Berdiri menunggu jemaat yang susah payah mengorek receh sampai ke ujung dompet. Padahal rupiah-rupiah biru gobanan minta dikeluarkan di antara kartu kredit dan ATMnya yang mepet. Jumlah sebegitu mana cukup, buset! Lebih mahal uang buat bayar toilet. Tapi setiap bulan pasti Handphone-nya selalu ganti baru. Mulai dari yang segede bata sampai sekarang yang berlayar sentuh. Dasar tak tahu malu. Minggu lalu, gereja mengumumkan minta dukungan dana buat pelayanan misi di pedalaman. Harusnya kalian-kalian yang lebih kaya yang lebih banyak menyumbang. Bukan aku yang cicilan kulkas saja belum lunas. Pelayanan boleh, asal jangan bikin dompetku jadi tipis seperti kertas!”

“Lebih susah lagi jadi operator slide lagu.” Begitu tukas seorang operator slide mendengar pelayan lainnya mengeluh. “Aku harus melayani dengan siap sedia dan konsentrasi penuh. Tidak boleh ngantuk atau melamun agar lirik lagu yang dinyanyikan tidak terlambat ditampilkan. Kalau terlambat, pasti mata-mata melotot memberi isyarat. Mendelik seperti bos dan karyawan yang mau dipecat. Apalagi semalam ada pertandingan, aku ‘kan bergadang menyaksikan. Jangan sampai ketinggalan satu gerakan. Pelayanan boleh, asal jangan menggangguku dalam hobi dan kesukaan!”

“Huh! Baru segitu sudah cerewet.” Seorang pemusik membeberkan uneg-unegnya yang berderet. “Aku pemusik harus berjerih mengorbankan waktuku untuk latihan dengan pemimpin pujian yang menyebalkan. Suaranya cempreng seperti kaleng. Nadanya suka lari sendiri. Dari Do bisa lari ke Si. Tak tentu, kadang melengking, kadang ngebass. Bahkan batuk saja suaranya fals. Belum lagi dengan drummer yang parah dan berisik. Baru belajar kemarin sore sudah berlagak sok asyik. Bagaimana suara musikku bisa kedengaran? Bagaimana permainanku yang lebih merdu dari mereka bisa dinikmati waktu penyembahan? Pelayanan boleh, asal jangan dengan orang-orang yang menyebalkan!”

“Siapa yang menyebalkan? Siapa yang suaranya sumbang?” Sang pemimpin pujian protes sambil berjalan datang.” Aku sudah konser dari kafe ke kafe sejak jadi bintang. Lagipula albumku bulan depan rilis di pasaran. Pasti nanti kalian memohon-mohon minta tanda tangan. Susah memang pelayanan di gereja kampungan. Suasananya tidak seru dan bikin ngantuk. Bersusah payah mengajak jemaat bernyanyi bertepuk tapi yang ada mereka cuma berdiam duduk. Pelayanan boleh, asal aku dikagumi dan jadi pusat perhatian!”

Pendeta gemuk tua berjalan terseok melangkah satu-satu. “Di gereja ini siapa yang lebih sulit pelayanannya daripadaku? Aku yang berkhotbah berceramah sejak masih muda. Menasihati orang putus asa dan mempersatukan keluarga yang hendak pisah. Membaptis, memimpin perjamuan, menikahkan, menguburkan sampai kunjungan doa ke rumah-rumah. Hah! Siapa yang tugasnya lebih melimpah, siapa yang harusnya lebih lelah? Namun pun persembahan yang aku terima tidak seberapa. Hanya cukup untuk ongkos jalan pulang. Tidak cukup untuk buat senang-senang atau makan puas sampai kenyang. Pendeta-pendeta lain lebih makmur, kaya dan terpandang. Sedangkan aku, sayang seribu sayang, harus bertahan di gereja ini yang mirip kandang. Mobil aku tak punya, jas pun satu-satunya sudah usang. Sudah terlihat kucel dan tidak layak. Pelayanan boleh, asal persembahan kasihnya yang banyak!”

Seorang nyonya keriput ikut cari ribut. Dia bukan siapa-siapa. Bukan pelayan, bukan majelis, bukan aktivis doa. Hanya jemaat biasa yang datang pun tidak senantiasa. Hanya muncul saat Natal dan Paskah, sesekali saat gereja bikin acara. “Siapa bilang jadi pelayan itu susah? Jadi jemaat itu lebih parah!” Tahu-tahu dia sudah datang sambil marah-marah. Semua pelayan lain diam terperangah. Sang nenek kembali berbicara. “Kalau kalian jadi jemaat, kalian akan mengerti apa yang ku rasa. Saat jemaat datang ke gereja, harusnya semuanya menyambut dengan ramah. Mempersilakan duduk, seolah kami ini tuan rumah; Karpet gedung ini harus ganti yang warna-warni. Harus bagus, harus rapi; Kursi pun mulai tidak nyaman saat diduduki. Harus dibeli baru dari kulit asli Itali; Tiap ibadah harus ada penari tamborin atau paduan suara mengiringi. Anak-anak atau orang dewasa berjubah putih-putih; Lagipula AC sudah tidak dingin lagi. Harus pasang baru, merk terkini; Speaker kurang nyaring, Mic suka berdenging, WC bau pesing, Taman terlalu kering, Ada bercak di dinding, Ada noda di piring, bla bla bla…” Daftar keluhannya masih panjang, bikin pusing.

Dari luar, si Iblis terbahak. Hahaha! Anak-anak Tuhan begitu cerdik, begitu kocak. Katanya pelayanan tapi seperti hanya kedok permainan. Keangkuhan, keserakahan, keegoisan, iri hati dan perselisihan. Minta dimanja, minta diperhatikan. Bahkan mereka yang mengaku sudah Kristen tahunan. Tetap saja berlaku mengecewakan. Yang mengaku Yesus sudah lahir dalam hatinya, mana buktinya? Belum terlihat, belum berbuah. Ini anak-anak Tuhan apa anak-anak setan? Bagaimana dengan sikapmu, masihkah semangat melayani atau kerapkali menggerutu? Benarkah Yesus yang jadi fokus kalau masih saja meributkan hal-hal tak becus.

Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.

Matius 16 : 24b

by: Heri Kurniawan

http://orangizenk.blogspot.com

Comments 1 Comment »

2 Corinthians 6:10

… poor, yet making many rich…

Lord, help me…

In spite of my limitations I want to learn how to enrich others

In spite of my sinful nature I want to learn how to love others

In spite of my weaknesses I want to learn how to forgive others

In spite of my hard times I want to learn how to give and pray for others

In spite of my busy days I want to learn how to serve others as if I serve you

Help me, Lord please help me…

post by: andre

Comments No Comments »

At least this is what I got from last sunday’s sermon. Rather than seeking glory, serve.
And don’t ask to sit on someone’s hand, it’s impolite.

to avoid confusion, read the context :D

Mark 10: 35 And James and John,the sons of Zebedee, came up to him and said to him, “Teacher, we want you to do for us whatever we ask of you.” 36And he said to them, “What do you want me to do for you?” 37And they said to him, “Grant us to sit, one at your right hand and one at your left, in your glory.” 38Jesus said to them, “You do not know what you are asking. Are you able to drink the cup that I drink, or to be baptized with the baptism with which I am baptized?” 39And they said to him, “We are able.” And Jesus said to them, “The cup that I drink you will drink, and with the baptism with which I am baptized, you will be baptized, 40but to sit at my right hand or at my left is not mine to grant, but it is for those for whom it has been prepared.” 41And when the ten heard it, they began to be indignant at James and John. 42 And Jesus called them to him and said to them, “You know that those who are considered rulers of the Gentiles lord it over them, and their great ones exercise authority over them. 43But it shall not be so among you. But whoever would be great among you must be your servant,44and whoever would be first among you must be slave of all. 45For even the Son of Man came not to be served but to serve, and to give his life as a ransom for many.”

created by: andrias taniwan

poporetto.deviantart.com

Comments No Comments »

Kemudian Samuel mengambil sebuah batu dan mendirikannya antara Mizpa dan Yesana; ia menamainya Eben-Haezer, katanya: “Sampai di sini TUHAN menolong kita.”

1 Samuel 7:12

Dalam masa peperangan antara Israel dan Filistin dalam perikop ini, Israel datang mengeluh dan meratap dihadapan Tuhan bagi keadaannya selama 20 tahun. Tabut Allah yang dahulunya merupakan lambang kehadiran Allah tersimpan hanya sebagai kotak yang “tidak berpengaruh”. Orang Israel merasa seolah-olah Allah telah meninggalkan mereka dan tidak lagi mempedulikan mereka. Dan saat-saat terjepit itu menjadi saat dimana orang Israel berseru dan meminta Allah menolong mereka. Kesempatan ini Samuel pakai untuk mengajak orang-orang Israel kembali kepada Allah, menyesali diri dan bertobat. Petobatan Orang-orang Israel ditandai dengan datang ke Mizpa, menimba air dan mencurahkannya di hadapan Tuhan (mencurahkan air ke tanah sebagai suatu tanda pertobatan dari dosa, berbalik dari berhala dan mengakibatkan ketaatan kepada Allah). Ketika mengetahui orang Israel di Mizpa, Filistin pergi menyerang Israel. Doa dan pertobatan mereka Allah dengar. Allah memberikan kemenangan kepada orang Israel. Allah menyelamatkan mereka. Sebagai respon pertolongan Allah, orang-orang Israel mengambil sebuah batu sebagai suatu peringatan akan pertolongan dan penyertaan Tuhan yang luar biasa.

Kisah kemurahan Allah ini mengingatkan saya secara pribadi tentang pertolongan Allah dalam perjalan kehidupan saya. Sama seperti orang Israel, dosa-dosa (kesombongan, iri hati, kemarahan, seksual, ketidak jujuran, dst), berhala-berhala (kesibukan, uang, pacar/orang-orang terkasih, presatasi, hobi, jam tidur, harga diri, diri sendiri, apapun yang menggantikan posisi Allah), ketidak-taatan saya kepada Allah (keinginan untuk berjalan ke tujuan dan dengan cara saya sendiri) seringkali “memaksa” Allah mengijinkan saya mengalami saat-saat yang sulit, saat-saat dimana kehadiran Allah terasa begitu jauh, saat-saat yang akhirnya membuat saya menjadi begitu frustrasi dan putus asa. Dan lalu keadaan seperti ini justru menjadi saat-saat terbaik yang Allah pakai untuk saya kembali dan menemukan-Nya. Saat-saat dimana saya datang dan “mencurahkan air ke tanah” dengan mengatakan, “Tuhan, saya ingin meninggalkan dosa-dosa saya, menghancurkan kekerasan hati saya, membuang berhala saya dan saya ingin taat kepada-Mu.” Saat-saat itu adalah saat terbaik dimana Allah mulai memulihkan keadaan saya (saya ingat dipenguhujung tahun 2005 saya datang kepada Tuhan dengan persaan ini). Ya, Kasih-Nya membuat masalah-masalah saya Allah bayar lunas dengan sebuah kedewasaan, kekhawatiran-kekhawatiran yang Allah tukar menjadi sebuah semangat perjuangan mengasyikan dalam menghadapi tantangan demi tantangan hidup bersama-Nya, kejenuhan-kejenuhan Allah jawab dengan kehadiran-Nya yang membuat kehidupan saya dipenuhi sukacita setiap saat. Eben-Haezer… menjadi momok dimana saya mengalami Allah hingga saya tak dapat berkata-kata lagi selain mengucapkan terimakasih karena Tuhan sudah membawa saya hingga di titik kehidupan seperti ini.

Tugu Eben-Haezer menjadi tanda dimana kita perlu menengok kebelakang mengingat saat-saat penting ketika pertobatan kita menghasilkan harapan dan kemenangan sejati. Eben-Haezer, “Sampai di sini TUHAN menolong kita” menjadi tugu peringatan yang akan membantu kita melewati hari-hari didepan dengan segenap “pergumulan-pergumulan manusiawi” kita. Apakah pergumulan kita hari ini?? Mengingat Eben-Haezer dapat menolong kita mengenang kemenangan-kemenangan bersama dengan Allah yang akan membuat kita mendapatkan kembali rasa percaya kepada-Nya dan kekuatan untuk menjalani hari ini dan seterusnya. Amin..

(nb: renungan ini gw persembahkan khususnya buat adik-adik rohani gw yang terkasih, Deon, Cen2, Yin2. Thx karena kalian sudah terlalu banyak berbagi hidup dengan gw… semangat!!! jesus always loves you guys!!!)

post by: andre

Comments 2 Comments »

Mazmur145:8-11

Setiap manusia diciptakan untuk memiliki kerinduannya masing2 (passion). Ada orang yg sungguh memiliki passion di bidang musik, ada org yg memiliki passion dalam olah raga dan meraih prestasi, ada org yg memiliki passion kepada seni, ada org yg memiliki passion menjadi seorang guru, ada org yg memiliki passion menjadi seorang milioner, ada org yg memiliki passion untuk menjadi seorang pemimpin besar yg dipandang dunia, ada jg org yg memiliki passion menjadi seorang novelis atau jurnalis. Setiap org memiliki passion nya masing2, besar maupun kecil.

Lalu, bagaimana dengan passion Yesus? Apakah Yesus jg memiliki passion-Nya sendiri? Jika ya,apa passion-Nya? Mazmur145:8-11 sungguh jelas menggambarkan passion Yesus bagi dunia. Yg pertama, dalam ayat8-9 memberitahu kita bahwa passion Yesus adalah untuk mengasihi dan menyanyangi kita umat-Nya. Yesus mengasihi kita dengan kasih setia-Nya. Dia baik bagi semua orang. Yg kedua (ayat 10) passion Yesus adalah bahwa Dia ingin segala ciptaan-Nya selalu mengucap syukur kepada-Nya dan memuji kebesaran-Nya. Dan yg terakhir (ayat11) passion Yesus adalah bahwa Dia ingin kita sebagai umat-Nya memberitakan kabar baik bagi orang lain, membicarakan kebesaran Tuhan kepada mereka yg belum mendengar, dan menyelamatkan yg terhilang. Inilah ketiga kerinduan Yesus bagi dunia ini. Yesus sudah membuktikannya diatas kayu salib. Peristiwa salib membuktikan bahwa Yesus begitu mengasihi kita, karena kasih Dia rela mati. Peristiwa salib membuktikan bahwa Dia ingin segala ciptaan-Nya mengucap syukur dan memuji kebesaran dan kemuliaan Allah Bapa di sorga. Dan peristiwa salib jg membuktikan bahwa Dia rindu, mereka yg sudah menerima anugrah keselamatan mau membagikan dan menceritakan kabar baik ini kepada segala bangsa.

Izinkan saya membagikan apa yg menjadi passion bagi hidup saya. Saya memiliki beberapa passion dalam hidup saya, saya mulai dari yg terendah. Yg pertama saya sangat ingin pergi ke berbagai tempat. Melakukan travelling ke berbagai belahan dunia. Mendapat banyak pangalaman, bertemu dengan berbagai macam org, menjalin relasi, merasakan budaya yg berbeda, dan belajar dari pengalaman. Passion saya yg kedua, saya ingin menjadi seseorang yg bs dibanggakan bagi keluarga. Keluarga saat ini maupun nanti. Saya ingin menjadi seorang yg bs dipercaya, memberikan nasihat ketika dibutuhkan, dan melindungi ketika dalam bahaya. Dan yg terakhir, passion no.1 dalam hidup saya adalah saya ingin hidup saya dipakai Tuhan untuk memberikan sesuatu bagi Indonesia. Entah itu sesuatu yg besar, ataupun kecil. Apapun itu saya tidak tahu. Namun itulah kerinduan saya.

Apakah kerinduan anda? Apakah passion anda? Yesus tidak hanya peduli kepada org yg memiliki passion2 yg besar. Percayalah bahwa Yesus jg bekerja bagi anda yg memiliki passion yg sederhana. Mungkin passion anda adalah musik, mungkin passion anda adalah olah raga, mungkin passion anda adalah jurnalis. Sesederhana apapun kerinduan kita, jika kita menyerahkannya kepada Yesus, Dia dapat menggunakannya untuk mengubah hidup seseorang. Percayalah, tidak ada kerinduan yg terlalu kecil di mata-Nya. Apa passion bagi hidup anda?

Apapun itu, berdoalah. Izinkan Yesus memakai passion anda dan bekerja di dalamnya.

Amen…

Posted by : Gideon

Comments No Comments »

Lukas 18:27 …“Apa yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Allah.”

Menempuh panggilan di “Jalan Salib” (sebagai seorang Kristen) seringkali akan mengantar kita kepada terlalu banyak kesulitan yang juga terlalu mengerikan untuk ditempuh. Kehilangan orang-orang yang terkasih, hati yang dilukai, ketidak-adilan, dijegal, dipermalukan, dihina, meninggalkan kenyamanan, kelelahan, kehilangan semua. Prasyarat di “Jalan Salib” nampak begitu sulit sehingga seringkali membuat kita menjadi begitu frustasi dan putus asa (bahkan kadang sebelum kita melangkah sama sekali) untuk menjalaninya.

Bagi manusia biasa seperti kita “Viadolorosa” (yang dalam konteks ini artinya meninggalkan semuanya dan mengikut Yesus) adalah hal yang mustahil. “Bagaimana mungkin saya bisa mengikut Tuhan ketika hidup menjadi begitu sulit”… “Bagaimana mungkin saya bisa meluangkan waktu bersama dengan Tuhan, sedangkan waktu saya terlalu berharga”… “Bagaimana mungkin saya menyerahkan hidup saya menjadi seorang misionaris sedangkan masa depan saya terlalu gemilang untuk dilewatkan”… “Bagaimana saya bisa memberikan apa yang saya suka sedangkan semuanya sudah ada di tangan saya”… “Terlalu sulit Tuhan… terlalu sulit untuk mengikuti jejak kaki-Mu di Viadolorosa.”

Seandainya saja jalan ini boleh ditukar… tapi sayangnya tidak dapat ditukar atau ditawar sama sekali… Panggilan hidup sebagai Murid Yesus adalah untuk menyangkal diri menjalani Viadolorosa sambil memikul salib kita masing-masing dan mengikut Dia… Benar jalannya sulit… tetapi tidak sendirian… Sang Guru Agung sudah meneladani cara melangkah di sana… Sang Guru Agung sudah menyatakan sebuah janji yang Tuhan ucapkan sendiri melalui Lukas 18:27… ketika kita mau menjalani jalan ini maka Viadolorosa yang tidak mungkin dilalui akan menjadi mungkin… semuanya akan menjadi mungkin. Kehilangan orang terkasih tetap terjadi, tetapi kekuatan Ilahi mengambil tempat yang kosong itu… Hati kita mungkin tetap terluka tetapi ada Kasih yang sejati yang menyembuhkan… Kita diperlakukan tidak adil, jalan dihambat, harga diri direndahkan tetapi damai sejahtera dan sukacita selalu menjadi kekuatan yang sejati… Kita “kehilangan” masa depan, kenyamanan kita terancam, waktu tidur kita terpotong, harta kita menyusut tetapi 5 roti 2 ikan menjadi berkat yang melimpah… Apa yang tidak mungkin kita mampu lakukan bisa Allah lakukan.

Apa kesulitan kita hari ini… Allah berjanji mendampingi kita untuk mengatasinya… Kita tidak sendirian sehingga Viadolorosa akan mungkin ditempuh. Mari melangkah di jalan Salib meskipun tertatih tetapi tidak mengenal kata mundur… Tuhan Memberkati!!!

post by: andre

Comments No Comments »

Lalu jawab Yesus kepada mereka, kata-Nya: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.” Lukas 5:31-32

Ada sebuah pertanyaan klise yang akan kita renungkan saat ini. (Semoga di momen perenungan ini Roh Kudus berbicara banyak bagi kita semua, termasuk untuk saya). Pertanyaan klise itu adalah “Apakah makna salib secara mendalam dan signifikan bagi kehidupan kita?” (Stop!!! Jangan melanjutkan bacaan ini sebelum merenungkan pertanyaan ini sejenak). Bukankah seringkali kita menemui makna salib bagi kita sudah memudar. Kita mengatakan dengan bibir Salib itu begitu penting, tapi secara jujur kadang salib menjadi hambar dalam hidup kita. Terlalu lama menjadi orang Kristen, kesibukan pelayanan, pergumulan, kesenangan diri, dst (termasuk karena minggu ini bukanlah minggu paskah) membuat kita kehilangan makna salib yang mendalam. Bagi saya, Salib adalah anugerah dan panggilan yang sangat berharga untuk “orang-orang sakit”. Orang-orang sakit secara rohani, orang-orang dengan penyakit dosa yang komplikasi, penyakit penipuan, penyakit perzinahan, penyakit pengkhiantan, orang-orang dengan bisul dan borok luka, amarah, dendam… kita sudah parah… tidak ada harapan… tetapi untung Yesus mau datang menjamah orang-orang sakit seperti kita. Setidaknya bagi orang-orang sakit yang mau sembuh.. (karena tidak ada seorangpun yang sehat, semua orang sakit dan tidak tertolong) karena tidak semua orang mau disembuhkan. Yah… banyak orang yang merasa dirinya baik-baik saja… (seringkali saya termasuk dalam hitungan orang ‘sok sehat’ ini…). Kita merasa sudah cukup baik (sehingga tidak perlu anugerah), kita merasa sudah cukup rohani dan puluhan tahun jadi Kristen (sehingga tidak perlu Firman), kita merasa diri kita cukup suci setidaknya dibandingkan orang-orang lain (sehingga tidak perlu Salib), kita merasa diri sudah cukup benar/sehat (sehingga tidak perlu bertobat), kita merasa sudah cukup mampu (sehingga tidak perlu Yesus). (untuk memperdalam makna ini, mari coba membayangkan posisi kita sebagai salah satu penderita kanker stadium akhir yang tidak ada harapan hidup lagi. Lalu kita menemukan sebutir obat mujarab… hanya satu butir obat di dunia. Apakah makna sebutir obat itu bagi kita? Kalau obat itu seharga rumah kita apa kita akan menjual rumah kita untuk membelinya? Kalau kita sudah mendapatkan obot itu dan ditawar untuk ditukar dengan tiket keliling dunia apa kita akan tukar? Kalau ditanya makna nya bagi kehidupan kita apakah kita akan menjawab biasa saja? Hope get the point… so pity… seringkali kita menukar makna salib itu… jujur… saya sering melakukannya).

Kalau hari ini kerohanian kita sedang terasa begitu kering dan hubungan kita dengan Tuhan terasa hambar mungkin kita sedang kehilangan makna Salib yang begitu menakjubkan itu dalam hidup kita. Siapa tahu secara perlahan dan tidak disadari Salib sudah menjadi hal yang “murahan” dan tidak berarti. Tetapi semoga ayat hari ini mengingatkan kita kembali akan makna salib dalam hidup ini, bahwa salib menyembuhkan orang sakit dan berdosa seperti saya. Salib adalah kemurahan dari Sang Pencipta yang mengasihi orang-orang tak berpengharapan (sombong lagi… belagunya…). Salib adalah panggilan mulia bagi orang-orang sekarat menemukan makna hidup yang sejati, salib adalah kemurahan tak terbeli bagi saya, saudara, dan semua orang. Sadari bahwa kita orang sakit supaya kita bisa berobat dan bertobat (setiap hari… setiap waktu… ingat lah salib).. Bukankah seharusnya hidup kita semata adalah untuk membayar salib itu..

post by: andre

Comments No Comments »

Bayangin suatu hari, dosenmu yang paling kamu segani datang ke depanmu, melepas sepatumu dan mencuci kakimu. (Ahahahahha.. mana ada dosen yang kayak gitu!!)

Waktu jaman Israel dulu, jalanan pastinya nggak semulus yang biasa kita lihat sekarang. Dengan alas kaki yang kebanyakan cuma sandal, debu dan bechek pasti pada nempel semua. Makanya di depan pintu setiap rumah disediakan air secukupnya untuk membasuh kaki sebelum orang masuk rumah. Seorang budak pemilik rumah menunggu di dekatnya, dengan sehelai handuk, siap mencuci kaki para tamu.

Waktu murid-murid-Nya sibuk bertengkar memperebutkan tempat yang terhormat, Yesus malah kasih teladan: siapa pun orang yang terbesar harus menjadi yang terkecil, dan pemimpin haruslah menjadi seperti pelayan. Yesus menanggalkan jubahNya dan membasuh kaki murid-muridNya. Dia yang adalah Tuhan lebih mendahulukan pelayanan sebagai tujuan daripada kehormatan dirinya. Tidak mempedulikan kesetaraanNya dengan Allah sebagai suatu hal yang patut Ia pertahankan, tetapi mau merendahkan diriNya jauh lebih rendah dari manusia pada umumnya untuk datang menyelamatkan manusia. Tuhan sudah lebih dulu melayani kita. Bagaimana dengan sikap kita selama ini ( yang ngaku-ngaku ) sebagai pelayanNya?

Motif batik yang dipakai Yesus & di background namanya motif kawung. Motif ini melambangkan keperkasaan dan keadilan. Motif kawung ini juga dikenakan oleh para punakawan, abdi setia kerajaan dalam pewayangan Jawa.

Silakan didonlot & dipake buat memberkati lebih banyak orang lagi!!
Glory is just for God!
=)

posted by: Heri K.

Comments No Comments »

Seorang sahabat menaruh kasih di setiap waktu, dan menjadi saudara dalam kesukaran (Amsal 17:17)

Bukti terbaik dari persahabatan yang sejati adalah loyalitas. Sahabat yang loyal artinya seseorang yang selalu mengasihi tanpa syarat. Sahabat yang loyal berarti menjadi sahabat yang selalu hadir dalam kondisi yang baik bahkan yang buruk. Sahabat yang loyal artinya seorang yang tetap mempertahankan hubungan persahabatan walaupun artinya berkorban. Sahabat yang loyal artinya seseorang yang menaruh kasih di setiap waktu dan menjadi saudara dalam kesukaran. Dan tahukah kita kalau Yesus adalah seorang sahabat yang demikian. Yesus adalah seorang sahabat yang bisa kita andalkan, Yesus menjadi sahabat yang selalu mengasihi kita dalam segala keadaan, Yesus menjadi sahabat yang tidak akan pernah meninggalkan kita pada saat hidup kita berada di posisi yang terendah sekalipun, Yesus menjadi sahabat yang terus ingin mempertahankan hubungannya dengan kita sekalipun seringkali Ia dirugikan sama sekali. Yesus seorang sahabat yang mengorbankan diri-Nya bagi sahabat-Nya… Yesus… sahabat yang mengasihi kita…

Dan sejujurnya Yesus sangat berharap kita menjadi seorang sahabat yang demikian juga bagi-Nya. Seorang sahabat yang loyal… seorang sahabat yang setia mengasihi-Nya sekalipun situasi manjadi begitu sulit, sahabat yang rela berkorban untuk kebahagiaan-Nya, sahabat yang memiliki waktu bagi-Nya, sahabat yang hatinya dekat dan bahkan menjadi seorang sahabat yang selalu mempercayai-Nya.

Dan sejujurnya juga Yesus berharap kita juga bisa menjadi seorang sahabat yang demikian bagi sesama kita. Menjadi seorang sahabat loyal, menjadi seorang sahabat yang tidak hanya mementingkan diri, menjadi sahabat yang murah hati (seperti Bapa), menjadi seorang yang tulus mengasihi sahabat kita, menjadi seseorang yang selalu ada ketika sahabat kita membutuhkannya.

Apa yang sudah kita lakukan bagi sahabat kita… hari ini secara sederhana kalau kita membaca amsal ini dan kita ingat kita memiliki sahabat yang begitu berarti (setidaknya Yesus) mari luangkan waktu sebentar berdoa bagi mereka dan mari mengucap syukur atasnya [lebih bagus kalo doanya di forward pake sms ^-^]. Lalu mari belajar untuk menjadi seorang sahabat yang loyal [jangan cuma menuntut orang lain menjadi sahabat yang loyal]. Jesus Loves You!!!

post by: andre

Comments 1 Comment »

This song always reminds me that ga ada yang kayak Yesus, Sahabat skaligus God yang nggak pernah ninggalin aku sendirian. Thank God buat dengerin tiap doa, masalah, bahkan curhat yang ga penting dari aku sekalipun. Thank for saving me and redeem me as Your friend!

This is Sinyo Yoshua & Noni Niki with Jesus, our Best Friend!
Silakan didonlot & dipake buat memberkati lebih banyak orang lagi!!
Glory is just for God!

posted by: Heri K.

Comments No Comments »