Archive for October, 2009

Di sebuah desa kecil, di puncak bukit. Ada gereja tua berdiri menyempit. Pintu dan jendelanya ditiup angin berderit. Gedungnya sudah lapuk. Atapnya sudah buruk. Di sana hanya ada satu pendeta tua. Yang sudah melayani sejak masa ia masih muda.

Minggu pagi itu, badai mengamuk. Kilat menyambar, guntur menggelegar, petir menyeruduk. Hujan lebat membasahi dari puncak sampai lubuk, dari gunung sampai teluk. Ibadah baru usai, jemaat enggan pulang masih bersantai. Lalu percakapan ini pun dimulai:

Seorang penyambut tamu mengeluh. “Jadi penyambut tamu tidaklah mudah. Kamu harus selalu tersenyum, menyapa jemaat yang datang, menjabat tangan, dan mengantarkan mereka dengan ramah. Bagaimana kalau aku sedang tidak dalam mood yang baik hari ini? Bagaimana kalau aku sedang tidak berniat tersenyum gara-gara aku tidak sempat sarapan karena terlambat bangun pagi. Masakan aku yang direktur ini harus memasang wajah munafik dan tersenyum palsu sama orang-orang yang kasta sosial-ekonominya lebih rendah? ‘Selamat pagi! Tuhan memberkati! Selamat beribadah’ Idih, amit-amit, dah! Padahal jika di luar, aku bertemu dengan tetanggaku yang segereja, boro-boro menyapa dan menjabat tangan. Aku tentu pura-pura tidak melihat atau sebisa mungkin memutar jalan. Pelayanan boleh, asalkan aku tetap dihormati dan disegani sesuai dengan jabatan!”

Seorang kolektan persembahan menimpali. “Jadi kolektan itu lebih makan hati. Kamu harus berkeliling-keliling gereja untuk mengumpulkan uang yang bukan untuk kamu pribadi. Berdiri menunggu jemaat yang susah payah mengorek receh sampai ke ujung dompet. Padahal rupiah-rupiah biru gobanan minta dikeluarkan di antara kartu kredit dan ATMnya yang mepet. Jumlah sebegitu mana cukup, buset! Lebih mahal uang buat bayar toilet. Tapi setiap bulan pasti Handphone-nya selalu ganti baru. Mulai dari yang segede bata sampai sekarang yang berlayar sentuh. Dasar tak tahu malu. Minggu lalu, gereja mengumumkan minta dukungan dana buat pelayanan misi di pedalaman. Harusnya kalian-kalian yang lebih kaya yang lebih banyak menyumbang. Bukan aku yang cicilan kulkas saja belum lunas. Pelayanan boleh, asal jangan bikin dompetku jadi tipis seperti kertas!”

“Lebih susah lagi jadi operator slide lagu.” Begitu tukas seorang operator slide mendengar pelayan lainnya mengeluh. “Aku harus melayani dengan siap sedia dan konsentrasi penuh. Tidak boleh ngantuk atau melamun agar lirik lagu yang dinyanyikan tidak terlambat ditampilkan. Kalau terlambat, pasti mata-mata melotot memberi isyarat. Mendelik seperti bos dan karyawan yang mau dipecat. Apalagi semalam ada pertandingan, aku ‘kan bergadang menyaksikan. Jangan sampai ketinggalan satu gerakan. Pelayanan boleh, asal jangan menggangguku dalam hobi dan kesukaan!”

“Huh! Baru segitu sudah cerewet.” Seorang pemusik membeberkan uneg-unegnya yang berderet. “Aku pemusik harus berjerih mengorbankan waktuku untuk latihan dengan pemimpin pujian yang menyebalkan. Suaranya cempreng seperti kaleng. Nadanya suka lari sendiri. Dari Do bisa lari ke Si. Tak tentu, kadang melengking, kadang ngebass. Bahkan batuk saja suaranya fals. Belum lagi dengan drummer yang parah dan berisik. Baru belajar kemarin sore sudah berlagak sok asyik. Bagaimana suara musikku bisa kedengaran? Bagaimana permainanku yang lebih merdu dari mereka bisa dinikmati waktu penyembahan? Pelayanan boleh, asal jangan dengan orang-orang yang menyebalkan!”

“Siapa yang menyebalkan? Siapa yang suaranya sumbang?” Sang pemimpin pujian protes sambil berjalan datang.” Aku sudah konser dari kafe ke kafe sejak jadi bintang. Lagipula albumku bulan depan rilis di pasaran. Pasti nanti kalian memohon-mohon minta tanda tangan. Susah memang pelayanan di gereja kampungan. Suasananya tidak seru dan bikin ngantuk. Bersusah payah mengajak jemaat bernyanyi bertepuk tapi yang ada mereka cuma berdiam duduk. Pelayanan boleh, asal aku dikagumi dan jadi pusat perhatian!”

Pendeta gemuk tua berjalan terseok melangkah satu-satu. “Di gereja ini siapa yang lebih sulit pelayanannya daripadaku? Aku yang berkhotbah berceramah sejak masih muda. Menasihati orang putus asa dan mempersatukan keluarga yang hendak pisah. Membaptis, memimpin perjamuan, menikahkan, menguburkan sampai kunjungan doa ke rumah-rumah. Hah! Siapa yang tugasnya lebih melimpah, siapa yang harusnya lebih lelah? Namun pun persembahan yang aku terima tidak seberapa. Hanya cukup untuk ongkos jalan pulang. Tidak cukup untuk buat senang-senang atau makan puas sampai kenyang. Pendeta-pendeta lain lebih makmur, kaya dan terpandang. Sedangkan aku, sayang seribu sayang, harus bertahan di gereja ini yang mirip kandang. Mobil aku tak punya, jas pun satu-satunya sudah usang. Sudah terlihat kucel dan tidak layak. Pelayanan boleh, asal persembahan kasihnya yang banyak!”

Seorang nyonya keriput ikut cari ribut. Dia bukan siapa-siapa. Bukan pelayan, bukan majelis, bukan aktivis doa. Hanya jemaat biasa yang datang pun tidak senantiasa. Hanya muncul saat Natal dan Paskah, sesekali saat gereja bikin acara. “Siapa bilang jadi pelayan itu susah? Jadi jemaat itu lebih parah!” Tahu-tahu dia sudah datang sambil marah-marah. Semua pelayan lain diam terperangah. Sang nenek kembali berbicara. “Kalau kalian jadi jemaat, kalian akan mengerti apa yang ku rasa. Saat jemaat datang ke gereja, harusnya semuanya menyambut dengan ramah. Mempersilakan duduk, seolah kami ini tuan rumah; Karpet gedung ini harus ganti yang warna-warni. Harus bagus, harus rapi; Kursi pun mulai tidak nyaman saat diduduki. Harus dibeli baru dari kulit asli Itali; Tiap ibadah harus ada penari tamborin atau paduan suara mengiringi. Anak-anak atau orang dewasa berjubah putih-putih; Lagipula AC sudah tidak dingin lagi. Harus pasang baru, merk terkini; Speaker kurang nyaring, Mic suka berdenging, WC bau pesing, Taman terlalu kering, Ada bercak di dinding, Ada noda di piring, bla bla bla…” Daftar keluhannya masih panjang, bikin pusing.

Dari luar, si Iblis terbahak. Hahaha! Anak-anak Tuhan begitu cerdik, begitu kocak. Katanya pelayanan tapi seperti hanya kedok permainan. Keangkuhan, keserakahan, keegoisan, iri hati dan perselisihan. Minta dimanja, minta diperhatikan. Bahkan mereka yang mengaku sudah Kristen tahunan. Tetap saja berlaku mengecewakan. Yang mengaku Yesus sudah lahir dalam hatinya, mana buktinya? Belum terlihat, belum berbuah. Ini anak-anak Tuhan apa anak-anak setan? Bagaimana dengan sikapmu, masihkah semangat melayani atau kerapkali menggerutu? Benarkah Yesus yang jadi fokus kalau masih saja meributkan hal-hal tak becus.

Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.

Matius 16 : 24b

by: Heri Kurniawan

http://orangizenk.blogspot.com

Comments 1 Comment »

2 Corinthians 6:10

… poor, yet making many rich…

Lord, help me…

In spite of my limitations I want to learn how to enrich others

In spite of my sinful nature I want to learn how to love others

In spite of my weaknesses I want to learn how to forgive others

In spite of my hard times I want to learn how to give and pray for others

In spite of my busy days I want to learn how to serve others as if I serve you

Help me, Lord please help me…

post by: andre

Comments No Comments »

At least this is what I got from last sunday’s sermon. Rather than seeking glory, serve.
And don’t ask to sit on someone’s hand, it’s impolite.

to avoid confusion, read the context :D

Mark 10: 35 And James and John,the sons of Zebedee, came up to him and said to him, “Teacher, we want you to do for us whatever we ask of you.” 36And he said to them, “What do you want me to do for you?” 37And they said to him, “Grant us to sit, one at your right hand and one at your left, in your glory.” 38Jesus said to them, “You do not know what you are asking. Are you able to drink the cup that I drink, or to be baptized with the baptism with which I am baptized?” 39And they said to him, “We are able.” And Jesus said to them, “The cup that I drink you will drink, and with the baptism with which I am baptized, you will be baptized, 40but to sit at my right hand or at my left is not mine to grant, but it is for those for whom it has been prepared.” 41And when the ten heard it, they began to be indignant at James and John. 42 And Jesus called them to him and said to them, “You know that those who are considered rulers of the Gentiles lord it over them, and their great ones exercise authority over them. 43But it shall not be so among you. But whoever would be great among you must be your servant,44and whoever would be first among you must be slave of all. 45For even the Son of Man came not to be served but to serve, and to give his life as a ransom for many.”

created by: andrias taniwan

poporetto.deviantart.com

Comments No Comments »

Kemudian Samuel mengambil sebuah batu dan mendirikannya antara Mizpa dan Yesana; ia menamainya Eben-Haezer, katanya: “Sampai di sini TUHAN menolong kita.”

1 Samuel 7:12

Dalam masa peperangan antara Israel dan Filistin dalam perikop ini, Israel datang mengeluh dan meratap dihadapan Tuhan bagi keadaannya selama 20 tahun. Tabut Allah yang dahulunya merupakan lambang kehadiran Allah tersimpan hanya sebagai kotak yang “tidak berpengaruh”. Orang Israel merasa seolah-olah Allah telah meninggalkan mereka dan tidak lagi mempedulikan mereka. Dan saat-saat terjepit itu menjadi saat dimana orang Israel berseru dan meminta Allah menolong mereka. Kesempatan ini Samuel pakai untuk mengajak orang-orang Israel kembali kepada Allah, menyesali diri dan bertobat. Petobatan Orang-orang Israel ditandai dengan datang ke Mizpa, menimba air dan mencurahkannya di hadapan Tuhan (mencurahkan air ke tanah sebagai suatu tanda pertobatan dari dosa, berbalik dari berhala dan mengakibatkan ketaatan kepada Allah). Ketika mengetahui orang Israel di Mizpa, Filistin pergi menyerang Israel. Doa dan pertobatan mereka Allah dengar. Allah memberikan kemenangan kepada orang Israel. Allah menyelamatkan mereka. Sebagai respon pertolongan Allah, orang-orang Israel mengambil sebuah batu sebagai suatu peringatan akan pertolongan dan penyertaan Tuhan yang luar biasa.

Kisah kemurahan Allah ini mengingatkan saya secara pribadi tentang pertolongan Allah dalam perjalan kehidupan saya. Sama seperti orang Israel, dosa-dosa (kesombongan, iri hati, kemarahan, seksual, ketidak jujuran, dst), berhala-berhala (kesibukan, uang, pacar/orang-orang terkasih, presatasi, hobi, jam tidur, harga diri, diri sendiri, apapun yang menggantikan posisi Allah), ketidak-taatan saya kepada Allah (keinginan untuk berjalan ke tujuan dan dengan cara saya sendiri) seringkali “memaksa” Allah mengijinkan saya mengalami saat-saat yang sulit, saat-saat dimana kehadiran Allah terasa begitu jauh, saat-saat yang akhirnya membuat saya menjadi begitu frustrasi dan putus asa. Dan lalu keadaan seperti ini justru menjadi saat-saat terbaik yang Allah pakai untuk saya kembali dan menemukan-Nya. Saat-saat dimana saya datang dan “mencurahkan air ke tanah” dengan mengatakan, “Tuhan, saya ingin meninggalkan dosa-dosa saya, menghancurkan kekerasan hati saya, membuang berhala saya dan saya ingin taat kepada-Mu.” Saat-saat itu adalah saat terbaik dimana Allah mulai memulihkan keadaan saya (saya ingat dipenguhujung tahun 2005 saya datang kepada Tuhan dengan persaan ini). Ya, Kasih-Nya membuat masalah-masalah saya Allah bayar lunas dengan sebuah kedewasaan, kekhawatiran-kekhawatiran yang Allah tukar menjadi sebuah semangat perjuangan mengasyikan dalam menghadapi tantangan demi tantangan hidup bersama-Nya, kejenuhan-kejenuhan Allah jawab dengan kehadiran-Nya yang membuat kehidupan saya dipenuhi sukacita setiap saat. Eben-Haezer… menjadi momok dimana saya mengalami Allah hingga saya tak dapat berkata-kata lagi selain mengucapkan terimakasih karena Tuhan sudah membawa saya hingga di titik kehidupan seperti ini.

Tugu Eben-Haezer menjadi tanda dimana kita perlu menengok kebelakang mengingat saat-saat penting ketika pertobatan kita menghasilkan harapan dan kemenangan sejati. Eben-Haezer, “Sampai di sini TUHAN menolong kita” menjadi tugu peringatan yang akan membantu kita melewati hari-hari didepan dengan segenap “pergumulan-pergumulan manusiawi” kita. Apakah pergumulan kita hari ini?? Mengingat Eben-Haezer dapat menolong kita mengenang kemenangan-kemenangan bersama dengan Allah yang akan membuat kita mendapatkan kembali rasa percaya kepada-Nya dan kekuatan untuk menjalani hari ini dan seterusnya. Amin..

(nb: renungan ini gw persembahkan khususnya buat adik-adik rohani gw yang terkasih, Deon, Cen2, Yin2. Thx karena kalian sudah terlalu banyak berbagi hidup dengan gw… semangat!!! jesus always loves you guys!!!)

post by: andre

Comments 2 Comments »