Archive for July, 2009

Lalu jawab Yesus kepada mereka, kata-Nya: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.” Lukas 5:31-32

Ada sebuah pertanyaan klise yang akan kita renungkan saat ini. (Semoga di momen perenungan ini Roh Kudus berbicara banyak bagi kita semua, termasuk untuk saya). Pertanyaan klise itu adalah “Apakah makna salib secara mendalam dan signifikan bagi kehidupan kita?” (Stop!!! Jangan melanjutkan bacaan ini sebelum merenungkan pertanyaan ini sejenak). Bukankah seringkali kita menemui makna salib bagi kita sudah memudar. Kita mengatakan dengan bibir Salib itu begitu penting, tapi secara jujur kadang salib menjadi hambar dalam hidup kita. Terlalu lama menjadi orang Kristen, kesibukan pelayanan, pergumulan, kesenangan diri, dst (termasuk karena minggu ini bukanlah minggu paskah) membuat kita kehilangan makna salib yang mendalam. Bagi saya, Salib adalah anugerah dan panggilan yang sangat berharga untuk “orang-orang sakit”. Orang-orang sakit secara rohani, orang-orang dengan penyakit dosa yang komplikasi, penyakit penipuan, penyakit perzinahan, penyakit pengkhiantan, orang-orang dengan bisul dan borok luka, amarah, dendam… kita sudah parah… tidak ada harapan… tetapi untung Yesus mau datang menjamah orang-orang sakit seperti kita. Setidaknya bagi orang-orang sakit yang mau sembuh.. (karena tidak ada seorangpun yang sehat, semua orang sakit dan tidak tertolong) karena tidak semua orang mau disembuhkan. Yah… banyak orang yang merasa dirinya baik-baik saja… (seringkali saya termasuk dalam hitungan orang ‘sok sehat’ ini…). Kita merasa sudah cukup baik (sehingga tidak perlu anugerah), kita merasa sudah cukup rohani dan puluhan tahun jadi Kristen (sehingga tidak perlu Firman), kita merasa diri kita cukup suci setidaknya dibandingkan orang-orang lain (sehingga tidak perlu Salib), kita merasa diri sudah cukup benar/sehat (sehingga tidak perlu bertobat), kita merasa sudah cukup mampu (sehingga tidak perlu Yesus). (untuk memperdalam makna ini, mari coba membayangkan posisi kita sebagai salah satu penderita kanker stadium akhir yang tidak ada harapan hidup lagi. Lalu kita menemukan sebutir obat mujarab… hanya satu butir obat di dunia. Apakah makna sebutir obat itu bagi kita? Kalau obat itu seharga rumah kita apa kita akan menjual rumah kita untuk membelinya? Kalau kita sudah mendapatkan obot itu dan ditawar untuk ditukar dengan tiket keliling dunia apa kita akan tukar? Kalau ditanya makna nya bagi kehidupan kita apakah kita akan menjawab biasa saja? Hope get the point… so pity… seringkali kita menukar makna salib itu… jujur… saya sering melakukannya).

Kalau hari ini kerohanian kita sedang terasa begitu kering dan hubungan kita dengan Tuhan terasa hambar mungkin kita sedang kehilangan makna Salib yang begitu menakjubkan itu dalam hidup kita. Siapa tahu secara perlahan dan tidak disadari Salib sudah menjadi hal yang “murahan” dan tidak berarti. Tetapi semoga ayat hari ini mengingatkan kita kembali akan makna salib dalam hidup ini, bahwa salib menyembuhkan orang sakit dan berdosa seperti saya. Salib adalah kemurahan dari Sang Pencipta yang mengasihi orang-orang tak berpengharapan (sombong lagi… belagunya…). Salib adalah panggilan mulia bagi orang-orang sekarat menemukan makna hidup yang sejati, salib adalah kemurahan tak terbeli bagi saya, saudara, dan semua orang. Sadari bahwa kita orang sakit supaya kita bisa berobat dan bertobat (setiap hari… setiap waktu… ingat lah salib).. Bukankah seharusnya hidup kita semata adalah untuk membayar salib itu..

post by: andre

Comments No Comments »

Bayangin suatu hari, dosenmu yang paling kamu segani datang ke depanmu, melepas sepatumu dan mencuci kakimu. (Ahahahahha.. mana ada dosen yang kayak gitu!!)

Waktu jaman Israel dulu, jalanan pastinya nggak semulus yang biasa kita lihat sekarang. Dengan alas kaki yang kebanyakan cuma sandal, debu dan bechek pasti pada nempel semua. Makanya di depan pintu setiap rumah disediakan air secukupnya untuk membasuh kaki sebelum orang masuk rumah. Seorang budak pemilik rumah menunggu di dekatnya, dengan sehelai handuk, siap mencuci kaki para tamu.

Waktu murid-murid-Nya sibuk bertengkar memperebutkan tempat yang terhormat, Yesus malah kasih teladan: siapa pun orang yang terbesar harus menjadi yang terkecil, dan pemimpin haruslah menjadi seperti pelayan. Yesus menanggalkan jubahNya dan membasuh kaki murid-muridNya. Dia yang adalah Tuhan lebih mendahulukan pelayanan sebagai tujuan daripada kehormatan dirinya. Tidak mempedulikan kesetaraanNya dengan Allah sebagai suatu hal yang patut Ia pertahankan, tetapi mau merendahkan diriNya jauh lebih rendah dari manusia pada umumnya untuk datang menyelamatkan manusia. Tuhan sudah lebih dulu melayani kita. Bagaimana dengan sikap kita selama ini ( yang ngaku-ngaku ) sebagai pelayanNya?

Motif batik yang dipakai Yesus & di background namanya motif kawung. Motif ini melambangkan keperkasaan dan keadilan. Motif kawung ini juga dikenakan oleh para punakawan, abdi setia kerajaan dalam pewayangan Jawa.

Silakan didonlot & dipake buat memberkati lebih banyak orang lagi!!
Glory is just for God!
=)

posted by: Heri K.

Comments No Comments »

Seorang sahabat menaruh kasih di setiap waktu, dan menjadi saudara dalam kesukaran (Amsal 17:17)

Bukti terbaik dari persahabatan yang sejati adalah loyalitas. Sahabat yang loyal artinya seseorang yang selalu mengasihi tanpa syarat. Sahabat yang loyal berarti menjadi sahabat yang selalu hadir dalam kondisi yang baik bahkan yang buruk. Sahabat yang loyal artinya seorang yang tetap mempertahankan hubungan persahabatan walaupun artinya berkorban. Sahabat yang loyal artinya seseorang yang menaruh kasih di setiap waktu dan menjadi saudara dalam kesukaran. Dan tahukah kita kalau Yesus adalah seorang sahabat yang demikian. Yesus adalah seorang sahabat yang bisa kita andalkan, Yesus menjadi sahabat yang selalu mengasihi kita dalam segala keadaan, Yesus menjadi sahabat yang tidak akan pernah meninggalkan kita pada saat hidup kita berada di posisi yang terendah sekalipun, Yesus menjadi sahabat yang terus ingin mempertahankan hubungannya dengan kita sekalipun seringkali Ia dirugikan sama sekali. Yesus seorang sahabat yang mengorbankan diri-Nya bagi sahabat-Nya… Yesus… sahabat yang mengasihi kita…

Dan sejujurnya Yesus sangat berharap kita menjadi seorang sahabat yang demikian juga bagi-Nya. Seorang sahabat yang loyal… seorang sahabat yang setia mengasihi-Nya sekalipun situasi manjadi begitu sulit, sahabat yang rela berkorban untuk kebahagiaan-Nya, sahabat yang memiliki waktu bagi-Nya, sahabat yang hatinya dekat dan bahkan menjadi seorang sahabat yang selalu mempercayai-Nya.

Dan sejujurnya juga Yesus berharap kita juga bisa menjadi seorang sahabat yang demikian bagi sesama kita. Menjadi seorang sahabat loyal, menjadi seorang sahabat yang tidak hanya mementingkan diri, menjadi sahabat yang murah hati (seperti Bapa), menjadi seorang yang tulus mengasihi sahabat kita, menjadi seseorang yang selalu ada ketika sahabat kita membutuhkannya.

Apa yang sudah kita lakukan bagi sahabat kita… hari ini secara sederhana kalau kita membaca amsal ini dan kita ingat kita memiliki sahabat yang begitu berarti (setidaknya Yesus) mari luangkan waktu sebentar berdoa bagi mereka dan mari mengucap syukur atasnya [lebih bagus kalo doanya di forward pake sms ^-^]. Lalu mari belajar untuk menjadi seorang sahabat yang loyal [jangan cuma menuntut orang lain menjadi sahabat yang loyal]. Jesus Loves You!!!

post by: andre

Comments 1 Comment »

This song always reminds me that ga ada yang kayak Yesus, Sahabat skaligus God yang nggak pernah ninggalin aku sendirian. Thank God buat dengerin tiap doa, masalah, bahkan curhat yang ga penting dari aku sekalipun. Thank for saving me and redeem me as Your friend!

This is Sinyo Yoshua & Noni Niki with Jesus, our Best Friend!
Silakan didonlot & dipake buat memberkati lebih banyak orang lagi!!
Glory is just for God!

posted by: Heri K.

Comments No Comments »

Yohanes 3:30

Suatu hari murid-murid Yohanes mengadu tentang persaingan ketat mengenai acara baptis membaptis yang dilakukan oleh murid-murid Yesus… Murid-murid Yohanes merasa terganggu karena murid-murid Yesus “mencuri domba” di ladang pelayanan mereka… [seolah-olah mereka takut popularitas golongan Yohanes akan berkurang]… Tetapi ada satu hal yang luar biasa dari seorang Yohanes Pembaptis. Dengan kerendahan hati sang nabi berani menyatakan sebuah statement kepada para muridnya, “Dia harus semakin besar… aku harus semakin kecil”. Sebuah statement yang saya yakin sangat sulit untuk diucapkan dengan kesungguhan hati… [bagaimana mungkin bisa diterima, kita yang bekerja keras… dan pihak lain yang diuntungkan… kita yang menabur dengan bercucuran air mata… orang lain yang menuainya… kita yang dengan setia mengasihi… tetapi orang lain yang memakan buahnya… bagaimana mungkin… kita yang berusaha mati-matian tetapi ‘Orang Lain’ yang menjadi besar sedangkan kita yang menjadi kecil… ]

Tetapi nyatanya memang demikian… bukankah seharusnya ketika nafas kita masih berhembus adalah semata-mata untuk terus berlatih supaya dapat membuat Dia semakin besar dan kita semakin kecil. Bukankah sudah sepantasnya suatu hari nanti nama Tuhan akan semakin terkenal dan nama kita akan semakin dilupakan orang-orang yang kita bimbing… [itu namanya kesuksesan…], bukankah suatu hari nanti kita harus menemukan bahwa orang-orang yang kita kasihi [pacar, sahabat, keluarga, dst…] akan semakin mencintai Allah dan semakin “tidak mencintai” kita… bukankah seharusnya suatu hari nanti kita menemukan porsi waktu kita akan semakin besar [bahkan seluruhnya] menjadi milik Allah sedangkan porsi waktu untuk diri sendiri akan semakin berkurang… bukankah suatu hari nanti kita harus menemukan bahwa kebergantungan hidup kita kepada Allah akan semakin besar dan pengandalan kepada diri sendiri akan semakin kecil… bukankah seharusnya suatu hari nanti kita menemukan diri kita akan semakin dan semakin memikirkan tentang kesukaan-Nya daripada kesukaan diri… dan bukankah suatu hari nanti seharusnya kepemilikan Allah atas diri kita… masa depan kita dan segala milik kita akan semakin besar… dan kuasa kepemilikan kita akan semakin kecil… yah… Dia harus semakin besar dan kita harus makin kecil… Dia harus makin bertambah dan kita harus makin berkurang…

Prinsip yang menarik yang Firman Tuhan ajarkan… suatu hari nanti seharusnya kita menemukan diri kita yang sedang membuat Yesus semakin besar dan membuat diri kita semakin kecil… pertanyaan bagi kita hari ini… Apakah kita sedang terus berusaha untuk semakin membesarkan “Dia”dan mengecilkan bagian si “aku” atau justru sebaliknya… kiranya Tuhan menolong kita… God Bless You!!!

post by: andre

Comments No Comments »

Kejadian 49:5-7

Lewi adalah anak ketiga dari 12 bersaudara keturunan Yakub. Dalam kisah kehidupannya, alkitab mencatat bahwa Lewi pernah melakukan suatu kesalahan yang besar bersama saudaranya Simeon. Kejadian 34 mencatat tentang kemarahan Lewi dan Simeon karena saudara mereka, Dina diperkosa oleh Sikhem. Lewi dan Simeon membunuh seluruh kaum kerabat Sikhem dengan tipu muslihat mereka. Akibat kesalahannya tersebut, Simeon dan Lewi tidak mendapat berkat dari Yakub. Tetapi cerita tidak berakhir sampai di sini… sejarah belum berkahir… nama Lewi terus disebut bahkan hingga akhirnya Lewi menjadi satu-satunya umat yang Allah khususkan untuk melayani.

Menarik sekali ketika kita membaca kisah tentang orang-orang Lewi. Allah mengkhususkan orang-orang Lewi menjadi orang-orang yang memiliki hak istimewa untuk melayani Allah secara langsung. Bahkandalam kitab Bilangan pasal 3 memberikan statemen bahwa orang-orang Lewi adalah sebagai pengganti anak sulung (anak sulung adalah kepunyaan Tuhan). Kalau kita melihat betapa istimewanya orang-orang Lewi bagi Allah, saya tidak melihat alasan yang cukup tepat dan masuk akal mengapa Allah memilih Lewi. Mengapa Allah tidak memilih Yehuda anak sulung yang hebat dan gagah sebagai suku yang dipilih? (walaupun Yehuda mendapat berkat bahwa kerajaannyaan akan kokoh), mengapa Allah bahkan tidak memilih Yusuf yang hidupnya sangat menjadi berkat untuk menempati posisi imam? Allah malah memilih Lewi… saya terus mencari alasan yang cukup masuk akal, tetapi belum mendapatkannya (kalau ada yang tahu tolong beri tahu saya). Yang saya mengerti dari firman ini adalah Allah memilih orang-orang yang tidak layak untuk melayani-Nya. Orang-orang yang tidak sempurna, yang pernah melakukan kesalahan, yang tidak pantas, yang bajingan, yang parah2… Allah bisa memilihnya dan mengkhususkannya untuk melayani DIa (tanpa alasan yang jelas).

Hari ini kalau kita merasa tidak cukup baik untuk menjadi pelayan Allah, jangan takut… Allah bersedia mencurahkan anugerahnya untuk memakai orang-orang yang tidak sempurna untuk menjadi pelayan-Nya. Bersediakah kita menerima kehormatan ini?

Tidak ada orang yang terlalu suci sehingga pantas untuk melayani Allah, bahkan tidak ada orang yang terlalu berdosa yang tidak pantas untuk melayani-Nya…

post by: andre

Comments 2 Comments »