Archive for April, 2009

 

TUHAN berjalan di depan mereka, pada siang hari dalam tiang awan untuk menuntun mereka di jalan, dan pada waktu malam dalam tiang api untuk menerangi mereka, sehingga mereka dapat berjalan siang dan malam. Keluaran 13:21

Allah berjalan di depan Bangsa Israel - menuntun langkah kehidupan mereka. Allah menuntun perjalanan mereka menuju ke tanah perjanjian melalui jalan yang terbaik. Tiang awan dan tiang api bagi Bangsa Israel di siang dan malam hari. Kitab Keluaran memberitahu kita bahwa tiang api dan tiang awan ini merupakan salah satu ‘Theophany’ (manifestasi wujud Allah yang nyata) terbesar yang di catat di Alkitab. Allah menunjukkan secara nyata diri-Nya yang teramat sangat besar melalui tiang awan dan tiang api. Luar biasa bukan?!? Di dalam bentuk ini Allah benar-benar menyatakan kepada manusia akan penyertaan-Nya yang sempurna. Allah selalu hadir bagi manusia, menuntun melalui jalan yang terbaik, memelihara, memberkati dan mengasihi mereka waktu siang ataupun malam.

Membayangkan hal ini saya selalu menjadi teramat sangat terharu.. Allah mempedulikan hidup saya.. Allah berjalan di depan saya.. Allah selalu bersama dengan saya sepanjang jalanan kehidupan saya.. Ia menyediakan apa yang saya perlukan.. Ketika kehidupan menjadi kering.. luka-luka hati infeksi.. masalah demi masalah membuat hidup menjadi lelah dan dahaga.. Allah tidak meninggalkan kita.. Ia selalu ada berjalan di depan kita, menyediakan keteduhan dan pemulihan bagi kita.. Ketika hidup menjadi suram.. segala sesuatu tampak gelap dan tidak ada harapan.. hati menjadi dingin karena kekhawatiran.. masa depan sulit untuk diprediksi.. Allah tidak meninggalkan kita, Ia tetap ada mempedulikan kita, memberikan kehangatan dan terang kehidupan.

Penyertaan-Nya yang sempurna dan nyata di gurun kehidupan orang Israel menjadi pernyataan-Nya juga bagi kehidupan kita hari ini. Apakah hari ini kita sedang tidak bisa melihat penyertaan-Nya yang nyata dalam kehidupan kita? Firman-Nya adalah bentuk penyertaan-Nya yang paling nyata di zaman ini. Tiang awan dan tiang api bagi orang Israel di sepanjang perjalanan kehidupan mereka melewati gurun, hari ini kita juga memiliki Firman Tuhan yang akan menuntun dan menerangi kita sehingga kita dapat terus berjalan siang dan malam.

“We don’t need to know where we’re going if we’re following the Shepherd”

posted by: andre

Comments 1 Comment »

MONSTERS vs ALIENS. Sebuah film 3D produksi Dreamworks, creators of Shrek and Kungfu Panda. Jadi karena begitu tertariknya sama film ini, maka saya tonton. dan… amazing! saya menikmati dan belajar begitu banyak hal dari film ini.

*spoiler alert*begini ceritanya,
Susan, seorang wanita biasa yang mau nikah tiba2 ketimpa meteor dr luar angkasa yg namanya quantium. Itu membuat dirinya menjadi raksasa-seperti monster! sampe-sampe harus dipenjarakan. Ternyata, di penjara itu dia menemukan teman-teman “monster” lainnya yang masing-masing mempunyai kekuatan khusus, dan yang memang mereka benar-benar tampak seperti monster. hehe..

Nah, Susan — yang ganti nama jadi Girnomica — dan teman-teman monsternya dibiarkan bebas dengan syarat mereka harus membasmi Aliens yang datang mengacau ke bumi.

Tadinya Susan begitu takut, tapi ternyata dia memiliki kekuatan super dari batu quantium yang membuatnya menjadi sangat kuat dan berani menghadapi Aliens.
Sama seperti waktu Allah tebus kita, dulu kita adalah Susan-Susan kecil yang gak berguna, bahkan tidak tahu tujuan hidup. Tapi begitu kita terima batu quantium–alias keselamatan, hidup kita berubah. Kita menjadi monster-monster-nya Allah untuk memprotect dunia ini dari si jahat dengan doa-doa kita, dengan karunia Roh, dengan SHAPE (Spirtual gift, Heart desires, Ability, Personality and Experience) kita, dan segala hal yang Allah sediakan dalam hidup orang percaya.

Allah memperlengkapi kita dengan senjata-senjata untuk melawan kuasa dari si jahat. (Efesus 6:10-17)

Awalnya, Susan ingin kembali ke kehidupan normal. Tapi begitu dia bertemu dengan tunangannya dan orang-orang, akhirnya dia menyadari, menjadi monster juga tidak buruk, bahkan jauh lebih baik. Dunia sekeliling Susan menolaknya, walaupun jelas-jelas Susan telah menyelamatkan mereka dari serangan Aliens. Waktu saya lihat adegan di mana Susan akhirnya memutuskan untuk tetap menjadi monster, saya ingat soal kekudusan dan hidup baru.

Allah telah menebus kita, karena itu kita harus hidup “set apart” dengan dunia luar. Kita tidak sendiri, banyak monster-monster lain (sahabat rohani) yang mendukung kita untuk tetap berusaha hidup kudus.

Menjadi Anak Allah tentu punya konsekuensi, dunia tidak menyukai kita. Bahkan seperti Susan yang kehilangan pacar, keluarga dan orang-orang sekelilingnya.

“Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat.” (Lukas 6:22)

Kadang kita pun seperti Susan, ditawari kembali untuk menjadi manusia yang lama. Tapi sekalipun begitu, Susan merasa hidupnya yang baru menjadi lebih berarti. Sama seperti Paulus katakan:

“Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus.” (Filipi 3:8).

Guys, pengenalan akan Allah adalah hal yang paling penting di dunia. Memang mungkin kita terlihat seperti monster aneh di mata dunia karena kita melakukan apa yang benar di mata Allah, tapi buktikan kalau kita bisa jadi monster yang memberkati dunia ini–seperti Susan dan teman-temannya.

posted by: esther

Comments No Comments »

Hakim-Hakim 7

Suatu hari sahabat baik saya mengirimkan sebuah SMS yang kira-kira bunyinya seperti ini: “Tuhan tidak ingin ada penopang lain dalam hidupmu selain Dia” [thx bro ^_^ sangat menguatkan]. Benar sekali… perasaan ‘saya cukup mampu’ bisa menjadi musuh dalam kehidupan kita pada saat perasaan itu mengakibatkan over confidence bahwa kita selalu akan dapat melakukan segala sesuatu dengan kemampuan kita sendiri. [hati-hati teman… ini kesombongan yang tersembunyi…] yah.. kita merasa mampu dengan kepandaian kita untuk berprestasi.. kita merasa cukup menarik untuk mendapatkan seorang pacar yang kita mau.. kita merasa cukup kaya untuk menentukan membeli kebahagiaan.. kita merasa cukup berpengalaman dalam menentukan pilihan hidup.. kita merasa cukup senior untuk menjadi seorang pelayan Tuhan.. dst.. Rasa cukup mampu mengakibatkan kita tidak lagi menyandarkan diri kita sepenuhnya kepada-Nya. [Dan Allah tidak mau itu terjadi]. Allah selalu ingin Ia menjadi satu-satunya penopang dalam hidup kita.. bukan uang kita.. bukan kepandaian kita… bukan keluarga kita.. bukan teman kita.. atau apapun.. hanya ada Allah.

Allah menunjukkan hal yang menarik dalam kisah Gideon. Dalam rangka membuat manusia untuk belajar mengandalkan Dia, Allah meminta Gideon untuk mengurangi jumlah prajurit mereka yang tadinya berjumlah 32,000 menjadi 300 orang. Gideon menjadi ragu, bagaimana tidak… Gideon harus menjalankan pertempuaran besar hanya dengan 300 orang. Tentu.. Gideon menyadari ketakutannya, tetapi dia tidak mencari alasan untuk lari dari tanggung jawabnya. Allah mengijinkan Gideon mendengar suatu percakapan yang menguatkannya di kamp musuh [haha.. Allah sangat tahu caranya membesarkan hati seseorang ^.^]. Yah.. dengan sedikit keberanian dan sedikit orang pilihan ini, Allah sedang membuat sebuah skenario yang pada akhirnya memaksa orang-orang ini untuk percaya bahwa kemenangan demi kemenangan HANYA KARENA ALLAH. Allah membuktikannya melalui kemenangan tentara Gideon. Tentara Gideon melihat sendiri bagaimana Allah berperang bagi mereka. Allah membuat orang Midian menjadi panik.. mereka ketakuatan dan berhamburan tanpa seorang pun dari prajurit Gideon yang mengeluarkan pedangnya untuk menyerang. Prajurit-prajurit Gideon mengalahkan musuh mereka tanpa kekuatan mereka sama sekali. Luar biasa bukan!!! Sekali lagi Allah bermaksud menunjukkan kesungguhan-Nya melalui kisah kolosal ini bahwa manusia sama sekali tidak dapat berbangga hati atas setiap keberhasilannya. Allah ingin menunjukkan bahwa kemenangan bukan bergantung pada kekuatan atau jumlah tetapi karena ketaatan dan tanggung jawab kepadaNya.

Teman, dari kisah luar biasa ini seolah-olah Allah terus mengingatkan kita [saya khususnya] bahwa sangatlah berbahaya apabila dalam peperangan kehidupan kita, kita sudah mulai berjuang sendirian. Kita sedang bergumul dalam masalah-masalah kita sendirian.. kita sedang berjuang melawan badai sendiran.. kita berperang melawan penyakit sendirian.. kita berperang melawan luka-luka hati sendirian.. kita sedang berjuang melawan kemarahan sendirian.. kita sedang berperang melawan rasa minder sendirian.. kita sedang berperang melawan ketakutan sendirian.. kita sedang berperang terhadap dosa sendirian.. kita sedang berperang dalam pelayanan sendirian.. kita sedang berperang demi masa depan sendirian… kita sedang berperang meraih prestasi sendirian.. kita sedang berperang menuju kehidupan sendirian.. itu tidak akan pernah berhasil. Seberapa pun besarnya usaha kita.. tanpa Allah tidak akan ada kemenangan yang sejati (saya sangat yakin). Sekali lagi Firman Tuhan hari ini mengatakan kepada kita bahwa kemenangan adalah ketika kita menaruh keyakinan kita di dalam Tuhan, bukan di dalam diri kita sendiri. Apakah hari ini kita sedang mengahadapi pertempuran? Apakah penopang dalam hidup kita hanyalah Allah? [jangan samapai Allah memaksa mengambil penopang-penopang yang lain]. Mari berperang bersama-Nya… dan jangan terkejut dengan cara Allah akan menolong kita untuk menang. Seperti Gideon..

God always be with you..

 

post by: andre

Comments No Comments »

Pernah terjebak di tengah-tengah pertengkaran? Pernah bingung buat milih berada di sisi yang mana? Memilih yang satu, berarti menolak yang lain.. ngga bisa setengah-setengah. Tanpa disadari hal yang setengah-setengah itu sering terjadi dalam hidup kita dengan Tuhan. Kadang jadi pelayan mimbar, tapi kadang ngomong kasar juga gapapa deh..

Rasul Yakobus memperingatkan kita dengan tegas; siapapun yang memilih untuk menjadi sahabat bagi dunia, dia adalah musuh bagi allah juga. Saya ragu dari antara kita ada yang mau berada di sisi yang salah dari persamaan tersebut. Bagaimana kita bisa tau di sisi manakah kita sungguh-sungguh berada. Thankfully, Paulus memberikan sebuah petunjuk. Di Galatia 5:19-21, sebelum dia menuliskan the famous-fruits ot the spirit-list, dia telah mendaftarkan beberapa contoh dari perilaku yang menunjukkan persahabatan dengan dunia: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora, dsb.

 

Kalau kita menemukan diri kita dalam list di atas, kita berarti telah membuat pernyataan yang sangat besar mengenai berada di sisi manakah kita berada. Dan hal yang mengerikan adalah kita bukan cuma jadi sahabat bagi dunia, tetapi juga menjadi musuh bagi Allah ketika perilaku kita bertolak belakang dengan keinginan-Nya dan jalan-Nya. Thankfully again, Paulus ngga membiarkan kita tetap berada di sana, di daerah musuh tersebut. Dia meneruskan dengan menulis daftar dari perilaku yang menunjukkan persahabatan dengan allah. (Galatia 5:22-23)

 

Yesus sendiri telah membuat kriteria/ syarat pertemanan dengan-Nya menjadi jelas ketika berkata pada murid-muridNya; kamu adalah sahabat-Ku jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan (Yohanes 15:14). Melakukan keinginan-Nya adalah sesuatu yang membuktikan pertemanan kita dengan-Nya dan itu memberi kuasa pada kita untuk menghasilkan lebih banyak buah untuk kemuliaan-Nya.

 

Jadi, ada di sisi manakah kita? Persahabatan dengan Yesus atau persahabatan dengan dunia yang semakin jatuh ini? Persahabatan dengan Yesus terbukti ketika kita berjalan bersama Dia dalam keinginan-Nya dan jalan-Nya. Yang mana berarti bahwa persahabatan dengan Yesus adalah sebuah pilihan..pilihan antara Yesus dan dunia yang bobrok ini. Kita harus memilih..karna kita ngga bisa hidup setengah-setengah di dalam Tuhan..kita ngga bisa kompromi kalo udah di dalam Tuhan. Kita ga bisa di satu sisi jadi pelayan yang notabene nya sungguh-sungguh tapi di sisi lain masi ikut-ikutan jalan dunia ini karena takut dibenci, takut dijauhi, takut dianggap aneh, takut ga punya temen.
Yakinlah bahwa kita berjalan di sisi Yesus.


*ingat, hasrat terbesar tuhan adalah supaya hidup kita menghasilkan buah. Apakah kita udah merasakan hasrat itu juga?

 

god bless..

 

post by: riri

Comments No Comments »

2Cor4:7-9

“I am not afraid to die, but I am afraid not to live“

Saya tidak takut untuk mati, namun saya takut untuk tidak hidupapa yg ada di benak pikiran kita ketika kita membaca kalimat ini? Cobalah baca sekali lagi dan ucapkan secara perlahan kepada diri kita masing-masing,”saya tidak takut untuk mati, namun saya takut untuk tidak hidup.”

Mari kita selidiki kehidupan kita, apakah hidup kita hanya bangun,bekerja,makan,tidur? Atau bangun, sekolah, makan, tidur? Saya rasa hidup kita tidak “semati” itu. Memang hal-hal tersebut adalah bagian dari kehidupan kita yg harus kita jalani di dunia ini, namun coba pikirkan, apakah hidup kita “semati” itu? Apakah rutinitas membuat kita tidak lagi “hidup”?

Dalam ayat 7, “Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami”. Allah menaruh suatu “harta” dalam diri kita masing-masing. There is something inside of us. Timbulah pertanyaan, apa “harta” itu? Harta itu adalah pengetahuan tentang kemuliaan Allah(ayat6). ketika kita memiliki pengetahuan akan kemuliaan Allah, kita akan memandang hidup kita dengan berbeda. Bukan lagi dari sudut pandang manusia, namun sudut pandang Allah. “harta” inilah yg membuat kita “hidup”. Cobalah renungkan kehidupan kita sejenak.  “Oh,hidup saya sangatlah baik, kuliah berprestasi, pekerjaan membanggakan, saya punya keluarga yg utuh dan harmonis, saya punya banyak teman, kondisi ekonomi baik, pelayanan lancar, saya selalu mendapatkan apa yg saya inginkan, masa depan saya terjamin, saya tidak memiliki sakit penyakit,dll.” Dalam sudut pandang manusia, seringkali kita berpikir, memang sudah sepantasnya kita mendapatkan hal-hal tersebut. “Sudah sepantasnya saya berprestasi di sekolah,karena saya belajar setiap hari. Sudah sepantasnya kondisi keuangan saya baik,karena saya bekerja banting tulang.” Selalu muncul kata “sudah sepantasnya….karena saya…”. namun ketika kita memandangnya dari sudut pandang Allah, sangatlah berbeda. Dalam ayat7 selanjutnya berkata,”supaya nyata bahwa kekuatan yg melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.” Ketika kita memandang dari sudut pandang Allah, kita akan menyadari bahwa semua itu berasal dari kemurahan Allah yg melimpah-limpah. Hati kita akan dipenuhi oleh ucapan syukur. Atau hidup kita sebaliknya,”Oh,hidup saya sungguh buruk, saya tidak lulus kuliah, saya tidak memiliki pekerjaan, keluarga saya diambang kehancuran, teman-teman menjauhi saya, kondisi ekonomi saya menipis, saya mengalami banyak kegagalan, saya merasa putus asa, saya gagal dalam mengejar cita-cita, masa depan saya suram, saya memiliki penyakit yg sulit disembuhkan,dll.” Dalam sudut pandang manusia, kita pasti akan kehilangan harapan,merasa diri sendiri tidak berguna, putus asa, semangat kita luntur, tidak ada kekuatan untuk bangkit. Namun dalam sudut pandang Allah, ayat8 memberi kita jawaban. Ya, selalu ada harapan.

Sadarilah bahwa hidup kita begitu penuh kemurahan Allah. Allah tidak pernah membuat hidup kita monoton. Dalam kondisi hidup yg baik, Allah punya maksud tertentu, Dia ingin kita belajar bersyukur, menyadari bahwa semuanya itu pemberian Allah, bukan karena usaha kita yg hebat. Dalam keadaan hidup yg buruk, penuh pergumulan, dan tantangan, Allah juga memiliki tujuan. Dia ingin kita belajar sesuatu dari setiap hal buruk yg terjadi, Dia ingin membuat kita semakin bertumbuh, Dia ingin melihat seberapa besar kepercayaan kita kepada-Nya, dan terlebih Dia juga ingin kita tetap limpah akan ucapan syukur. Mungkin kita sudah tahu hal ini, dikhotbahkan ratusan kali dalam tema yg berbeda, diucapkan setiap kali berdoa, namun akuilah bahwa hal ini sulit untuk kita imani. Karena itu Allah ingin kita belajar, semakin diperbaharui, semakin beriman.

Ya, hidup kita sungguh melimpah. Allah memberikan hidup yg limpah akan pengalaman baik maupun buruk dimana kita bisa belajar, limpah akan berkat, limpah akan kasih, limpah akan “kejutan-kejutan” yg dibuat-Nya. Dia membuat kita “hidup”. Mari kita merefleksikan kehidupan kita, apakah kehidupan kita sudah “hidup”? hidup berarti bertumbuh, berjuang menghadapi tantangan. Hidup berarti menolong sesama, memberi, membagikan berkat. Atau kehidupan kita tidaklah lagi “hidup”. Merasa Allah sangat jauh, merasa sendiri, tidak bertumbuh. Percayalah bahwa Allah memberikan kehidupan yg melimpah untuk kita. He gives abundant life. Bukan melimpah harta, namun melimpah kemuliaan Allah. Dalam Kejadian, Allah menciptakan manusia serupa gambar-Nya. Itu berarti Allah ingin kita hidup serupa dengan-Nya, serupa dengan hidup yg Yesus jalani di dunia. Yesus tidak melimpah harta, namun hidup Yesus melimpah akan kemuliaan Allah. This is abundant life. Inilah kehidupan limpah yg Allah janjikan. Mari kita belajar meresponi setiap kondisi dalam kehidupan kita entah baik atau buruk seperti Yesus, memandang dari sudut pandang Allah. Ketika kita bisa melakukan hal ini, hidup kita akan melimpah. Limpah akan kemuliaan Allah.

 

posted by: gideon

 

 

Comments 1 Comment »

Bersyukurlah apabila kamu tidak tahu sesuatu

Karena itu memberimu kesempatan untuk belajar.

Bersyukurlah untuk masa-masa sulit.

Di masa itulah kamu tumbuh…

Bersyukurlah untuk keterbatasanmu.

Karena itu memberimu kesempatan untuk berkembang.

Bersyukurlah untuk setiap tantangan baru.

Karena itu akan membangun kekuatan dan karaktermu.

Bersyukurlah untuk kesalahan yang kamu buat.

Itu akan mengajarkan pelajaran yang berharga.

Bersyukurlah bila kamu lelah dan letih.

Karena itu kamu telah membuat suatu perbedaan.

Comments No Comments »

Yesaya 30 :1-15

Dari ayat di atas ada 4 point yang gw dapatkan:

Point 1#

Ayat 1: celakalah anak2 pemberontak… melaksanakan rancangan yang bukan dari padaKu.. yang memasuki suatu persekutuan yang bukan oleh dorongan Ku.. (What sorrow awaits my rebellious children. You make plans that are contrary to Mine. You make alliances not directed by My Spirit.)

Rebellious children adalah kata yang dipakai buat ngegambarin bangsa israel sebagai bangsa yang berdosa dan yang memberontak terhadap Tuhan.. Di ayat ini menjelaskan tentang pemberontak yang melaksanakan rencana yang bertentangan dengan yang Tuhan punya, yang berarti gak mengandalkan God dan gak meminta God mengambil 1 bagian dari hidup kita buat di pimpin ama Dia, dan gila nya ada akibatnya di ayat2 selanjutnya banyak hal yang gak akan berjalan sesuai harapan kita itu dan juga malah akan mempermalukan dan mengacaukan kita. dan juga menarik banget kalimat selanjutnya, memasuki persekutan yang buka oleh doronganKu.. gilaa.. betapa dahsyatnya hal ini menunjukan pentingNya Tuhan dalam segala sesuatu.

So ada hubungannya ma idup kita… Kasarnya kalo mu masuk persekutuan, mu ngambil pelayanan, mu kuliah, dan apapun juga, mati ajaa kalo itu gak berdasarkan dorongan roh.. aliass… semuanya itu pasti keiingiinan diri sendirii kita.. karena kalo bukan dorongan God ato dorongan Roh, pastinya itu keinginan pribadii atau rutinitas biasa.. hukkss.. karena ituu.. mari mulai sekarangg pikirin lagi dan cek lagi segala dorongan dan sentuhan Roh di hati kita dalam melakukan segala sesuatu, jangan sampe salah dengan melakukan sesuatu yang bertentangan dengan GOD. Mungkin kita belakangan ini jadi kurang peka ama dorongan roh kita.. let’s check up..

Point 2#

Ayat 9: sebab mereka itu suatu bangsa pemberontak, anak-anak yang suka bohong, anak-anak yang enggan mendengar akan pengajaran Tuhan. (that these people are stubborn rebels who refuse to pay attention to the Lord’s instructions.)

Bahasa inggrisnya menunjukan perubahan dari ayat 1 yang ngomongin rebellious ajah, jadi stubborn rebels. Pemberontak yang keras kepala.. aduuhh… ituu gw banget.. >.

 

Point 3#

Ayat 10: “Janganlah lihat bagi kami hal-hal yang benar, tetapi katakanlah kepada kami hal-hal yang manis, lihatlah bagi kami hal-hal yang semu” -Tutup mulut! Jangan mengatakan kepada kami apa yang benar, tetapi apa yang ingin kami dengar. Biarkan kami tetap berkhayal.( Don’t tell us what is right. Tell us nice things. Tell us lies.)

Ayat yang luar biasa.. tanpa sadar mungkin kita suka seperti ini.. pengen sesuatu yang baik bukan sesuatu kebenaran.. Hebaattt kann?? Baik dan benar ituu gak beda jauhh artiiya.. tapi.. sesuatu yang baik menurut kita itu belum tentu benar di kamus Tuhan.. tekadang kita pengen sesuatu yang bisa menipu diri kita, berupa kebohongan-kebohongan yang bukan sesuai dengan kehendak Allah..(tell us lies..) seharusnya kita bisa berusaha buat mau menerima apa yang benar, bukan sebatas yang baik aja..

Point 4#

Yang terakiirr.. gmn cara nya semuaa itu bisa di atasi?? Ada jwabannya di ayat 15:

Only in returning to me and resting in me will you be saved. In quietness and confidence is your strength.

Kembali padanya dan tinggal di dalam Dia… betapa luar biasanyaa DIA.. di dalam keheningan, kesendirian kita, mari datang kembali pada GOD, makin deket ma God.. tapi sayangnya seperti di ayat ini banyak juga dari kita yang lebih pengen lari dan gak mau mengambil cara ini.. tapi marii.. para pemberontak pemberontak, ini saatnya buat berbalik, menghancurkan sikap keras kepala kita, merendahkan diri kita, berbalik lagi kepadaNya, bertemu lagi dengan DIA.. gak layak orang orang seperti kita memberontak terhadap TUHANnya..

post by: yin

Comments 1 Comment »

‘You must love the Lord your God with all your heart, all your soul, all your strength, and all your mind.’ And, ‘Love your neighbor as yourself.’ (NLT Luke 10:27)

 

A story is told about a soldier who was finally coming home after having fought in Vietnam. He called his parents from San Francisco. “Mom and Dad, I’m coming home, but I’ve got a favor to ask. I have a friend I’d like to bring with me.” “Sure,” they replied, “we’d love to meet him.”

“There’s something you should know,” the son continued, “he was hurt pretty badly in the fighting. He stepped on a land mine and lost an arm an leg. He has nowhere else to go, and I want him to come live with us.”

“I’m sorry to hear that, son. Maybe we can help him find somewhere to live.”

“No, Mom and Dad, I want him to live with us.”

“Son,” said the father, “you don’t know what you’re asking. Someone with such a handicap would be a terrible burden on us. We have our own lives to live, and we can’t let something like this interfere with our lives. I think you should just come home and forget about this guy. He’ll find a way to live on his own.” At that point, the son hung up the phone. The parents heard nothing more from him.

A few days later, however, they received a call from the San Francisco police. Their son had died after falling from a building, they were told. The police believed it was suicide. The grief-stricken parents flew to San Francisco and were taken to the city morgue to identify the body of their son. They recognized him, but to their horror they also discovered something they didn’t know, their son had only one arm and one leg.

The parents in this story are like many of us. We find it easy to love those who are good-looking or fun to have around, but we don’t like people who inconvenience us or make us feel uncomfortable. We would rather stay away from people who aren’t as healthy, beautiful, or smart as we are.
Thankfully, there’s someone who won’t treat us that way. Someone who loves us with an unconditional love that welcomes us into the forever family, regardless of how messed up we are. Tonight, before you tuck yourself in for the night, say a little prayer that God will give you the strength you need to accept people as they are, and to help us all be more understanding of those who are different from us!!! God Bless…

 

post by: riri

Comments No Comments »

Dan baru di sana engkau mencari TUHAN, Allahmu, dan menemukan-Nya, asal engkau menanyakan Dia dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu. Apabila engkau dalam keadaan terdesak dan segala hal ini menimpa engkau di kemudian hari, maka engkau akan kembali kepada TUHAN, Allahmu, dan mendengarkan suara-Nya. (Ulangan 4:29-30)

 

Kitab Ulangan ditulis oleh Musa kepada orang Israel sebagai surat wasiat terakhir menjelang Israel masuk ke tanah perjanjian. Musa tidak akan pernah masuk ke tanah perjanjian karena Musa pernah melanggar perintah Tuhan. Dalam pesan-pesan terakhirnya itu, Musa mengingatkan Bangsa Israel untuk dapat tetap setia kepada Tuhan, mencari terus Tuhan dengan segenap hati dan jiwanya. Musa mengingatkan pengalaman-pengalaman sebelumnya dan bahkan pengalaman yang akan datang bahwa seringkali Bangsa Israel menyimpang dari pada Tuhan (tegar tengkuk) dan kemudian Tuhan akan menghukumnya sehingga mereka berbalik. Dan situasi apa yang seringkali membuat orang Israel berbalik dari Tuhan??? Pada saat mereka berada di zona kenyamanan… berkat jasmani yang berlimpah… pada saat keamanan Tuhan berikan… itu membuat mereka menjadi lengah dan lupa kepada Allah yang memberikan itu semua. Dan pada situasi apa Bangsa Israel justru berbalik kepada Allah??? Pada saat mereka terdesak, kesulitan, di pembuangan. Anehnya, di tengan kesulitan Bangsa Israel malah berbalik kepada Allah dan kondisi yang nyaman justru membuat mereka tidak setia (“melecehkan Allah”). Sikap ini juga yang seringkali terjadi dalam kehidupan kita saat ini. Kondisi yang nyaman seringkali membuat kita tidak lagi bersungguh-sungguh dalam mengikut Tuhan.

Benar… kondisi yang nyaman seringkali membuat kita lengah… Kenyamanan hidup membuat kita menomor-duakan Tuhan. Kondisi yang nyaman membuat kita menjadi orang-orang yang malas… orang-orang yang besar kepala… orang-orang yang tidak lagi mengandalkan Tuhan… Bukankah demikian halnya terjadi, kekayaan seringkali membuat kita lupa berdoa untuk meminta… kepandaian membuat kita memilih tanpa Allah… lingkungan yang nyaman membuat kita enggan untuk melangkah ke luar menjangkau jiwa… kemudahan membuat kita tidak melangkah ke tanggung jawab yang lebih besar… “puji tuhan… saya bisa mengatasi masalah saya sendiri…”, “ orang tua saya dapat membiayai studi saya ke manapun saya mau…”, “pelayanan di tempat lain ah… banyak tuntutannya, harus saat teduh lah, berdoa lah… susah… pelayanan di sini juga sudah cukup… kan yang penting pelayanan”, “pelayanan ke pedalaman?? Itu mah tugasnya hamba Tuhan… saya mah ga bakat…”, “Berdoa… sebentar ajah yah… masih ada proyek besar yang harus dikerjain nih…”

Sekali lagi, kondisi yang nyaman seringkali membawa kita ke posisi yang jauh dari Allah, lupa akan kebaikannya (merasa semua wajar2 saja), lupa pada keinginan Allah dalam (hanya mengikuti keinginan kita), sombong dan merasa diri mampu melakukan segala hal tanpa Allah. Hati2 kenyamanan dapat menjadi musuh terselubung bagi kita.

Sebaliknya, Firman Tuhan hari ini kembali mengingatkan kita… bahwa seringkali Allah memakai kondisi yang sulit untuk membuat orang berdosa seperti kita berbalik pada Tuhan. Itulah sebabnya seringkali Allah membiarkan kesulitan terjadi… supaya kita menyadari posisi kita dan berbalik kepadaNya. Itulah mengapa seringkali kita tidak dapat melihat dengan pasti hari depan kita… agar kita selalu mengandalkan Allah. Itulah sebabnya seringkali Allah membuat kita ‘sport-jantung’, agar kita betul-betul menyerah pada kuasaNya. Itulah sebabnya seringkali Allah tidak memenuhi apa yang kita inginkan… agar kita bisa mencari kehendak-Nya yang terbaik. Itulah sebabnya seringkali Allah membuat pelayanan kita menjadi tidak mudah… agar kita menyadari bahwa kekuatan yang melimpah-limpah berasal dari Allah. Itulah sebabnya mengapa kita tidak dapat melihat langkah-langkah di depan kita… supaya kita dapat belajar untuk hanya berharap pada pemeliharaannya (bukan pada apa yang kita punya). Dan itulah sebabnya kadang Allah membiarkan kita di gurun… supaya kita dapat sungguh-sungguh menghargai yang namanya air. Hari ini kalau dalam hidup kita, kita sedang mengalami pergumulan yang sulit… kita sedang mengalami situasi yang tidak nyaman (studi kita mandek, pekerjaan kita tidak beres, pelayanan kita sulit, masa depan kita membingungkan, apa yang kita mau tidak kita dapatkan, keluarga kita diambang kehancuran, hubungan kita dengan orang lain rusak, orang-orang di sekitar kita mengecewakan, kita bergumul dengan keuangan kita, masalah kita terlalu besar…) jangan khawatir… Allah mengijinkan itu terjadi untuk membawa kita lebih dekat kepada-Nya… agar kita semakin piawai dalam menggunakan lutut dan iman kita… bahkankadang itu adalah kesempatan yang terbaik untuk Allah menyatakan kasih-Nya… karena Allah juga bersedia menemani kita di lembah yang kelam sekalipun.

 

post by: andre

Comments No Comments »

Bacaan: Roma 5:8-11

Tetapi Allah menyatakan kasih-Nya kepada kita ketika Kristus mati untuk kita pada waktu kita masih orang berdosa. (BIS Roma 5:8)

Dua anak kembar memiliki perawakan yang sangat mirip, sampai-sampai terkadang orang tidak dapat dengan mudah membedakan mereka. Si kembar memiliki kesamaan dalam banyak hal kecuali dalam kehidupan mereka. Yang satu tumbuh menjadi seorang pengacara besar dan terkenal – yang lain justru menjadi seorang pembunuh kelas kakap. Terlalu jahat dan besarnya kesalahan yang dilakukan si pembunuh menyebabkannya masuk pengadilan dan divonis dengan hukuman mati. Malam menjalang eksekusi tiba. Si penjahat menjadi semakin gelisah karena ia akan segera menemui ajalnya. Di waktu bersamaan, kembaran yang lain juga mengalami hal yang serupa. Ia begitu gelisah memikirkan tentang kematian saudara kandungnya. Setelah memeluk isteri dan anaknya yang masih kecil, sang pengacara itu bergegas pergi ke tempat tahanan. Tidak sulit bagi seorang pengacara untuk masuk kedalam sel. Dengan pakaian hukum ia dapat masuk tanpa pengawasan yang ketat. Di sel pengap dan bau itu ia bertemu dengan saudara kembarnya. Saat-saat itu rasanya waktu menjadi terlalu sedikit dan jarum jam terasa berdetak terlalu cepat. Tidak ada banyak hal yang dapat dipikirkan. Hanya saja dan dalam pertemuan singkat itu, sang pengacara bergegas menukarkan pakaian yang dikenakannya.

“Aku tidak mengerti apa yang sedang kau lakukan Jack!”

“Ehhm… (menunduk sambil terus bergegas menanggalkan pakaiannya) aku sangat mengasihimu Rick… dan aku melakukan ini hanya karena aku percaya engkau akan menggunakan kesempatan ini…”

“Tapi…”

“Sudahlah… Segera keluar! (sambil mendorong)”

Semuanya berlangsung begitu cepat sampai tiba-tiba si pembunuh melangkah keluar dengan pakaianpengacara dan sang pengacara mondar-mandir di dalam sel dengan baju tahanan.

Detik-detik eksekusi begitu mendebarkan. Seperti biasanya, eksekutor memberikan waktu bagi orang hukuman untuk berdoa dan menyampaikan pesan terakhirnya. Dengan terbata dan gugup tahanan itu mulai bersuara,

“35 tahun saya menjalani hidup dan saya sudah melakukan yang terbaik yang saya bisa. Saya sudah cukup puas dengan hidup saya, karena itu saya ingin memberikan hidup saya bagi seseorang di sana untuk mendapat kesempatan memperbaiki hidupnya…”

Tidak seorang pun di tempat eksekusi yang mengerti akan kalimat ini kecuali dia yang mendapat kesempatan itu – si penjahat (maksud saya “pengacara”). Pelatuk ditarik… peluru menembus dadanya… darah mengalir… hukuman dibayar lunas… kasih dinyatakan… kesempatan besar diberikan… menunggu untuk diambil dan dilakukan…

 

Mungkin kita sudah pernah mendengar kisah ini berulang kali… tetapi hari ini kalau boleh saya rindu mengajak kita untuk sedikit berimajinasi dengan kisah ini. SEANDAINYA… dalam kisah ini kita menempati peran si penjahat yang menyaksikan orang lain di hukum mati karena kesalahan kita, bagaimana perasaan kita? Saya yakin 2 perasaan terbesar yang akan kita alami adalah perasaan bersalah dan perasaan berhutang. Merasa bersalah karena orang lain dihukum karena saya, dan merasa berhutang karena orang lain membayar apa yang seharusnya saya bayar. Wajar bukan?? Dan saya rasa memang seharusnya seperti itu.. Pertanyaan berikut, SEANDAINYA… kisah ini ditulis kelanjutannya, bagaimana ceritanya? Apakah penjahat ini akan berubah menjadi orang baik… atau tetap menjadi seorang pembunuh? Saya rasa semua orang akan setuju kalau kelanjutan kisah ini akan menceritakan tentang bagaimana kehidupan si penjahat yang telah berubah drastis… kita akan menemukan sang penjahat yang telah berhenti membunuh… kita akan menemukan sang pejahat yang sudah mencukur janggutnya, mengganti pakaiannya dengan pakaian yang bersih dan rapi… dan lebih dari itu, ia sudah menjadi orang yang baru. Mungkin ia akan berdiri di mimbar-mimbar gereja dan menyaksikan, “Sisa hidupku sampai hari ini adalah anugerah dari saudaraku dan aku akan memakainya dengan sebaik-baiknya…” Dan saya rasa kalau si penjahat itu masih berani hidup asal dan tidak berubah itu namanya benar-benar “tidak tahu diri!” (Seandainya kisah ini kita putar menjadi sebuah sinetron dan kita menemukan penjahat itu tidak berubah dan hidupnya tetap menjadi penjahat… wah kita pasti akan menjadi sangat geram dan kesal.) Yah sekali lagi… itu perasaan yang logis dan wajar (karena memang seharusnya itulah yang terjadi). Dan tunggu sebentar… bukankah kisah ini adalah sebuah kisah yang begitu mirip dengan kisah kehidupan kita… Betul… ini kisah kita bersama dengan Yesus. Kita penjahat ulung (memang tidak membunuh tetapi bukankah kita suka membenci orang, kita tidak jahat, tapi bukankah kita berdosa, menipu, melukai, tidak mau mengampuni, egois, pezinah dalam pikiran, pemboros waktu, dst…) dan Yesus menggantikan posisi kita dalam eksekusi itu. Yah… itulah kita. Dan benar sekali… Yesus melakukannya bagi kita karena Dia begitu mengasihi kita dan Dia berharap kita mendapat kesempatan untuk menggunakan hidup kita dengan lebih baik lagi. Bagaimana dengan respon kita setelah menyaksikan kisah eksekusi di salib itu? Seharusnya eksekusi itu hukuman kita bukan? Tetapi Yesus menggantikannya untuk kita. Kalau setelah kita melihat dan menerima pengorbanan-Nya kita tidak berubah… itu namanya (maaf…) betul-betul “tidak tau diri”. Tapi… sejujurnya kita semua memiliki kecenderungan menjadi orang seperti ini. Banyak sekali orang yang mengaku dirinya Kristen tetapi menjadi orang Kristen yang “tidak tahu diri”. Ke gereja ya rajin, bahkan sibuk digereja… tapi… yah… cuma sekedarnya. Pengorbanan itu tidak menjadi bagian dalam hidup… hanya sebagai kisah di alkitab.

Di tengah keheningan pribadi hari ini (hanya ada engkau dan Tuhan) kita memiliki kesempatan untuk merenung sejenak… tentang salib… tetang hidup kita… mari mengambil waktu barang 30 menit untuk kembali mengingat akan pengorbanan itu. Dia benar-benar menukar baju-Nya untuk menggantikan hukuman kita! Dia benar-benar menggantikan eksekusi kita! Dia sangat yakin kalau pengorbanan yang Ia berikan itu akan kita terima dan gunakan dengan sebaik-baiknya. Yesus sangat yakin… dan terlalu yakin hingga tekadnya begitu bulat untuk melangkah dan tidak mundur di sepanjang via dolorosa. Ini saatnya bagi kita untuk berdiam dan menentukan kisah kehidupan kita selanjutnya… mengerjakan kesempatan itu dengan lebih sungguh-sungguh… mensyukuri dan menghargai perbuatan dan anugerah-Nya… atau membuat pengorbanan-Nya itu menjadi hal yang konyol dan sia-sia..Yesus betul-betul teramat sangat mengasihi-Mu (Dia mengatakan dan melakukan-Nya)…

Sebenarnya penyakit kitalah yang ditanggungnya, sengsara kitalah yang dideritanya, padahal kita menyangka penderitaannya itu hukuman Allah baginya. Tetapi ia dilukai karena dosa-dosa kita, dan didera karena kejahatan kita. Ia dihukum supaya kita diselamatkan, karena bilur-bilurnya kita disembuhkan. (Yesaya 53:4-5 BIS)

Doa: Tuhan… saya betul-betul merasa hidup saya terlalu kotor, penuh dengan dosa dan tidak baik sama sekali. Tetapi hari ini saya kembali mengingat akan Kasih yang selalu Engkau berikan untuk saya. Terima kasih karena Engkau memberikan kasih itu bukan karena saya ini orang baik, tapi justru Engkau memberikan kasih yang terbesar ini bagi saya orang berdosa yang paling membutuhkannya. Tuhan, hari ini saya sekali lagi ingin memperbaharui tekad saya untuk hidup lebih sungguh-sungguh lagi bagi Engkau. Saya tidak cukup yakin dapat melakukannya, tetapi saya memohon kemampuan dari-Mu agar saya dapat mempersembahkan sisa hidup saya ini hanya untuk melakukan yang terbaik yang saya bisa bagi-Mu. Terima kasih Tuhan untuk salib-Mu. Tolonglah agar tanda salib di hidup saya akan selalu menjadi bagian yang akan saya pikul dan beritakan… bahwa saya ini orang berdosa dan Yesus menyelamatkan saya. Terima kasih Yesus… Amin…

post by:andre

Comments 2 Comments »