Archive for March, 2009

2 Timotius 2:13

“Keputusan Anda dapat membuat anda keluar dari kehendak Allah, namun tidak keluar dari jangkauan-Nya”

insight:

hidup di dunia bagaikan sebuah perjalanan panjang. Melewati siang dan malam, Kadang merasakan kedinginan, kadang jg kepanasan.

tak jarang jg menemukan jalan yg berbatu, jalan berliku2 atau persimpangan jalan. Seringkali di tengah jalan kita merasa lelah, merasa haus dan lapar, tenaga kita habis, persediaan minum dan makanan kita tak cukup lagi, dan merasa tidak sanggup lagi melanjutkan perjalanan, merasa putus asa dan ingin menyerah.

kadang juga kita tersesat, berjalan di jalan yg salah, tak tahu kemana jalan itu membawa kita,dan tak tahu kemana jalan untuk pulang. kita berusaha mencari2 namun yg kita temukan hanya lah jalan buntu.

inilah sebuah perjalanan yg harus ditempuh setiap manusia. it is our journey.

rasanya sulit ketika kita memandang perjalanan ini, banyak tantangan, banyak hambatan, dan seakan mustahil dijalani.

ya,perjalanan ini memang mustahil dijalani sendiri. oleh karena itu kita membutuhkan “penolong” di setiap tantangan yg kita hadapi.

kita membutuhkan senter ketika kita berjalan di malam hari. kita membutuhkan penghangat ketika kita kdinginan, payung ketika kita kepanasan. kita membutuhkan penunjuk arah ketika kita di persimpangan jalan dan ketika kita tersesat. kita membutuhkan suatu tempat peristirahatan yg nyaman ketika kita kelelahan berjalan. kita membutuhkan makanan dan minuman untuk memberikan energi bagi tubuh kita.

dan Allah adalah “penolong” bagi setiap org yg percaya kepada-Nya.

Dia Allah yg menaburkan jutaan bintang di langit dan memberi nama setiap bintang untuk menerangi jalan kita di malam hari. Dia Allah yg adalah tiang awan di siang hari dan tiang api di malam hari. Dia Allah yg mencurahkan darah-Nya dan tubuh-Nya sebagai penebusan dosa kita. Dia Allah yg menyediakan pelukan hangat bagi setiap anak-Nya yg merasa lelah,dan berkata,”letakkanlah bebanmu di kaki-Ku..”

Dia Allah yg meletakan pelita sebagai penunjuk arah ketika kita di persimpangan jalan. Dia Allah yg selalu berteriak memanggil nama kita, mencari kita ketika kita tak tahu jalan untuk pulang.Dialah Allah yg menjadi “penolong” bagi perjalanan kita.

namun seringkali kita menolak pertolongan Allah. Kita memutuskan untuk berjalan sendiri. Kita memutuskan mengambil jalan pintas, ketika Allah berkata “bersabarlah”.

Keputusan2 yg kita ambil dalam perjalanan ini akan mengubah arah perjalanan kita. keputusan yg keliru akan membawa kita ke jalan yg keliru pula.

dan seringkali kita melakukannya terhadap Allah. kita berjalan mendahului-Nya, merasa tidak sabar, kurang percaya, dan ragu akan pertolongan yg Allah janjikan.

Inilah kecenderungan setiap kita ketika menjalani perjalanan panjang ini. Kita tidak setia, kita mengkhianati Allah.

Namun begitu indah yg dikatakan dalam 2 tim 2:13,

“if we are unfaithful, he remains faithful, for he can’t deny who he is..”

Allah menyatakan diri-Nya bahwa Dia adalah Allah yg setia. Dia berjanji untuk menyertai kita sampai akhir zaman.(matthew28:20)

Dia berjanji untuk menuntun kita di jalan yg benar. Dan Dia adalah Allah yg tak pernah berubah, dari dulu sampai sekarang, sampai selama-lamanya.Allah bersedia untuk menjadi seorang gembala yg membimbing kita ke air yg tenang, ke padang rumput yg hijau.

“Pada saat siapa pun diantara kita mengambil langkah keliru,atau bahkan ragu2 dalam hidup kita melalui keangkuhan atau kurangnya kepercayaan,ketidaksabaran atau ketakutan–Tuhan akan menunjukkan sebuah jalan keluar.” (Catherine Marshall)

Ketika kita menyimpang, Allah tahu dimana kita berada dan Dia tahu bagaimana membawa kita kembali pada jalan-Nya.

“Keputusan Anda dapat membuat anda keluar dari kehendak Allah, namun tidak keluar dari jangkauan-Nya”

Hal ini hanya dikarenakan Dia adalah Allah yg setia. Dia telah berjanji, dan takkan lalai.

Percayalah,Allah peduli akan hidupmu . . .

 

Comments 1 Comment »

Ezra 1

Kitab Ezra mencatat tentang kehidupan bangsa Israel pada tahun 538 sebelum masehi. Pada saat itu bangsa Israel sedang dalam masa pembuangan di Persia setelah 48 tahun mengalami pembuangan di Babel karena ketidak setiaannya pada Allah. Pada saat itu Koresh, Raja Persia memerintah seluruh wilayah dari Asyria hingga Babel. Uniknya, Raja Koresh memerintah orang2 di pembuangan dengan belas kasihan. Walaupun Koresh tidak menyembah Allah Yahwe, Koresh dipakai Allah untuk mengembalikan bangsa Israel ke tanah perjanjian. Koresh mengijinkan orang2 di pembuangan untuk kembali dan Koresh juga memberikan perlindungan , harta dan barang-barang di Bait Allah yang telah diambil Nebukadnezar Raja Babel. Bahkan lebih dari itu, Raja Koresh mengumumkan kepada rakyatnya untuk memberikan bantuan kepada Bangsa Israel yang akan membangun kembali Bait Allah dengan memberikan emas dan perak mereka kepada orang2 Israel (ga bisa abis pikir… mana ada penjajah yang semurah hati itu sama orang2 yang dijajah). Pembangunan kembali Bait Allah di Yerusalem dimulai ketika Allah menggerakkan hati para pemimpin, kepala keluarga, para imam, dan orang-orang Lewi untuk kembali membangun Bait Allah. Menarik sekali, dalam 48 tahun pembuangan di Babel, orang-orang Yahudi yang tadinya sangat sombong dipaksa berubah menjadi rendah hati karena kondisi yang Allah ijinkan terjadi. Ketika hati mereka berubah, Allah mengijinkan mereka untuk kembali ke tanah perjanjian dan memulai memulihkan kembali kehidupan mereka. Kembalinya Israel (walau hanya sebagian, karena sebagian orang Israel tidak mau kembali karena merasa kehidupan mereka sudah nyaman di pembuangan) adalah penggenapan dari nubuatan Nabi Yeremia kurang lebih 200 tahun sebelumnya.

Sejarah ini menunjukkan bahwa Allah kita tidak pernah gagal dalam menjalankan rencana-Nya. Allah bisa memakai siapapun, bahkan orang asing sekalipun (seperti Koresh) untuk menggenapkan kehendak-Nya. Demikian juga dengan kehidupan kita, rencana dan kehendak Allah dalam kehidupan kita tidak pernah bisa gagal. Pada saat kita sedang menghadapi situasi yang sulit dan merasa sekeliling tidak dapat diprediksi, tidak ada harapan, atau tidak bisa diatasi, ingatlah bahwa kuasa Allah tidak terbatas oleh kemampuan kita. Allah dapat memakai situasi apapun dan siapapun untuk menggenapkan rencana-Nya dalam hidup kita. Hari ini ketika kita bimbang untuk memutuskan sesuatu bagi kehidupan kita, ragu untuk melangkah mengatasi masalah yang begitu rumit, merasa tidak mampu untuk berjuang (berjuang mengatasi dosa, berjuang untuk mengampuni dan mengasihi orang lain, berjuang untuk ujian, berjuang dalam pelayanan, berjuang bagi apapun) ingat… Allah tidak pernah gagal dalam menjalankan rencana dan kehendak-Nya dalam hidup kita. Penggenapan rencana Allah sama sekali tidak bergantung pada kehidupan kita. Dengan atau tanpa kita, rencana Allah pasti digenapi. Jadi dengan demikian… artinya… kalau kita punya andil dalam rencana Allah itu adalah suatu kehormatan besar yang Allah berikan. Ketika Allah meminta kita untuk menjadi seorang yang berbeda (karena penuh kasih dan kemurahan), menjadi seorang agen pembawa berkat dan damai sejahtera, sebagai pelayan injil, selama kita dalam jalan-Nya, jangan takut untuk melangkah karena Dia menyertai kita dan menyediakan lebih dari yang bisa kita pikirkan. Keberhasilan tidak berada di tangan kita, tetapi ada di tangan-Nya. Hari ini apabila ada sesuatu yang besar di dalam hati kita yang Allah taruh untuk kita lakukan, lakukan dengan iman (jangan takut). Paulus mengingatkan “Allah turut bekerja di dalam-Mu, memberikan kepadamu hasrat untuk taat pada-Nya dan kekuatan untuk melakukan apa yang berkenan bagi-Nya (Filipi 2:13). Lakukan kehendak Allah dimulai dari keinginan dan hasrat hati kita dan mari kita dengan rendah hati terbuka pada setiap kesempatan dan bergerak sesuai dengan tuntunan-Nya, bukan dengan seberapa besar kemampuan kita. Father Bless You!!!

post by: andre

 

Comments 2 Comments »

 

 

M A Z M U R 6

kejujuran

Sebuah keluarga yang begitu setia beribadah dan hidup melayani Tuhan, tiba-tiba harus kehilangan anak satu-satunya karena menjadi korban pembunuhan, ketika terjadi perampokan di rumahnya. Beberapa bulan kemudian, suami dari ibu yang telah kehilangan anak satu-satunya ini pun terkena PHK.

Sepertinya tidak satu hal pun yang dapat mengobati luka dan kepedihan hati keluarga ini. Mengapa hal ini menimpa keluarga yang setia dan takut akan Tuhan? Mengapa seolah-olah Tuhan tidak bertindak menolong mereka? Sampai berapa lama keluarga ini harus mengalami pergumulan?

Penulis mazmur (Daud) menulis pasal 6 ini menulis ketika dirinya sedang mengalami masa-masa sulit, dan penderitaan itu dengan cepat mengelilingi kehidupannya. Kita tidak tahu seberapa besar penderitaan yang dialami oleh Daud, mungkin penderitaannya tidak jauh berbeda dengan kejadian diatas, sampai seluruh tubuh Daud terasa sakit dan lemas, tetapi apapun penyebabnya, Daud mencari Tuhan untuk menyembuhkannya dari sakitnya. (ayat 3)

Daud mengaitkan penderitaan yang dialaminya dengan hukuman, murka, hajaran, dan amarah-Nya. Pemahaman ini terus bertumbuh dengan bertambahnya pengenalan akan Tuhan yang penuh kasih setia, yang akan mendengar doanya dan menyelamatkannya. Bahkan semua musuhnya pun akan mendapat malu dan mundur dari padanya.

Daud memohon (dalam terjemahan lainnya memohon = mengemis) kepada Tuhan agar Tuhan tidak menghukumnya dalam kemarahan-Nya (seperti yang dilakukan Yeremia dalam Yeremia 10:24, Yeremia meminta Tuhan agar tidak menghukumnya dalam kemarahan-Nya). Daud amat sangat menyadari bahwa jika Tuhan menghukum dengan cara-Nya sendiri dan tanpa kemurahan hati-Nya, maka Daud akan dihapus atau dibinasakan karena murka Allah.

Kita belajar bahwa dasar yang teguh bagi orang Kristen untuk menghadapi pergumulan bukanlah iman terhadap konsep, tetapi kepada Allah yang hidup, yang mendengarkan dan menjawab doa-doa kita. Tuhan bukan hanya mengizinkan penderitaan sebagai hukuman bagi yang berdosa, namun juga mengizinkan berbagai penderitaan dan pergumulan mewarnai kehidupan orang Kristen yang setia, saleh, dan hidup takut akan Tuhan. Penghayatan makna pembentukan-Nya bukan dari kesuksesan dan kelancaran hidup yang selalu diwarnai dengan kesenangan. Justru sebaliknya terlebih banyak orang Kristen belajar makna pembentukan-Nya melalui berbagai pergumulan yang seringkali membawa duka pada awalnya, namun membawa sukacita di hari kemenangan.

Pada ayat 7, merupakan penyerahan Daud. Daud mencurahkan isi hatinya pada Tuhan. Daud menaburi hatinya dengan air mata. Daud mengutarakan semuanya sama Tuhan. Daud adalah orang yang jujur dan sangat terbuka pada Allahnya.

Aplikasi dalam kehidupan kita:

Kita dapat jujur dan berterus terang sama Tuhan, bahkan Dia akan sangat senang, jika Dia menjadi tempat curhat dan orang yang paling kita percaya. Datanglah pada-Nya saat kita sedang diliputi oleh kemarahan atau keputuasaan, dsb. Karena jika perasaan itu kita pendam, maka akan menimbulkan perilaku yang tidak baik, sehingga kita tidak dapat memancarkan akan sosok Tuhan dalam kehidupan kita, dan akan membuat kita depresi. Namun, jika kita datang dan jujur sama Tuhan, menyatakan segala sesuatunya sama Tuhan, apakah itu ucapan syukur atau kekecewaan yang kita rasakan, maka iblis ga akan pernah berhasil buat memisahkan kita dari-Nya.

Jujur dan terbuka hatilah sama Tuhan, dan Dia akan menolong kita. Dia akan mengalihkan seluruh perhatian kita yang tadinya fokus kita diri sendiri beralih ke Tuhan dan kepada kemurahan hati-Nya.

Bergaulah akrab dengan Allah. Apakah kita punya sahabat yang sangat kita percaya? Tuhan ingin kita mempercayai-Nya seperti kita mempercayai sahabat kita.

Untuk akrab dengan Allah, dibutuhkan kejujuran dan penyerahan diri.


Ada satu lagu yang memberkati gw, lagu yang menjadi kekuatan buat gw bahwa Tuhan mendengar gw, dan Dia peduli sama hidup gw…

Lagu GMB, album GMB WORSHIP

S O N G  OF   H O P E

I ran from the water

And I walk down the road

No sense in escaping

You’re loving voice in my head

I know You can hear me

I know that You’re there

My hope will surround me

For I know that You care

The silence is haunting

Down the road in my head

My heart has been longing

So won’t You find me instead

Maukah kita menjadi sahabat-Nya?

Dia ada dan peduli sama kita

Jujur dan terbukalah sama Sahabat kita

post by: cen2

Comments No Comments »

Jehova Shamma = The Lord Is There [God is always present with us]

>>>Psalm 139

Jehova Shamma disebutkan dalam kitab Yehezkiel 48:35. Jehova Shamma merupakan salah satu sebutan bagi Allah karena Ia selalu hadir dalam kehidupan umat-Nya. Kitab Yehezkiel dimulai dengan penggambaran tentang kemuliaan Allah yang dihina dan diabaikan oleh umat Tuhan (Israel). Akibatnya, hadirat Allah meninggalkan Bait Allah, meninggalkan kota, dan meninggalkan orang-orang Israel. Pada saat hadirat Allah meninggalkan Bait Allah itu bukan berarti Allah tidak lagi mempedulikan umat-Nya. Dalam ketidak-setiaan dan ketidak-taatan umat-Nya, Allah tetap ada bagi bangsa Israel. Kitab Yehezkiel diakhiri dengan pengelihatan yang begitu detail mengenai Bait Allah yang baru, kota yang baru, dan manusia-manusia baru – semua nya menunjukkan kemuliaan Allah.

Suatu hari Rave anak laki berusia 7 tahun marah kepada ayahnya karena melarangnya main di luar rumah pada malam hari. Rave sangat keras kepala dan tidak taat sehingga ia melarikan diri ke luar rumah. Karena Rave terlalu asyik bermain, Rave tidak menyadari bahwa ia sudah terlalu jauh dari rumah. Rave tersesat… Rave tersadar dirinya sudah berada di tempat yang asing seorang diri. Dan tentu saja Rave kecil tidak mengetahui jalan untuk pulang. Di tengah kesunyian malam, Rave ketakutan sendirian. Rave tidak bisa berbuat apa-apa selain diam, duduk di pinggir jalan… Rave berusaha terus mengingat-ingat jalan-jalan yang telah ia lalui, tetapi Rave tidak dapat mengingatnya sama sekali. Di tengah keputus-asaan Rave, tiba-tiba Rave merasakan kehadiran seseorang di sampingnya. Bagi Rave tidak ada satu halpun yang bisa membuatnya menangis saat itu kecuali sebuah suara yang ia dengar, “Papa di sini nak, jangan takut!” Melihat ayahnya di sana, Rave kecil menghela nafas panjang dan mulai menangis. Dengan segera Rave berlari memeluk ayahnya dan berkata, “Papa, aku lega engkau disini!”

Pernahkah anda mengalami situasi semacam ini? Kesalahan dan ketidaktaatan kita membuat kita menjadi jauh dari Allah dan kita tersesat. Kita terlalu tidak berdaya untuk memikirkan jalan keluar setiap masalah dan pergumulan kita. Kita berjuang memutar otak sendirian hingga kita menemukan jalan buntu dan kita menjadi sangat ketakutan (bahkan hingga tidak dapat menangis). Yah… seperti orang Israel, kehidupan kita sebagai umat pilihan tidak jauh berbeda. Kita sering menghina dan mengabaikan kemuliaan Allah. Seringkali kita tidak berusaha menjaga kekudusan hidup kita (padahal tubuh kita adalah bait Allah tempat Allah bertahta), seringkali kita berkompromi terhadap dosa dengan dalih lingkungan yang memaksa, seringkali kita meragukan Allah karena otak kita ‘terlalu pandai’. Demikian juga bukankah seringkali hidup kita dipenuhi dengan berhala-berhala dunia (segala hal yang lebih penting dari hidup kita selain Allah), orang-orang tersayang, prestasi, hobby, harta, diri sendiri dan tentu saja itu membuat kita meninggalkan Dia. Seringkali hidup kita didominasi ketidak taatan - menyangkal kehadiran Roh Kudus, menghindari panggilan, melawan kehendak-Nya, mencuri kemuliaan-Nya bagi diri sendiri. Bukankah hal itu yang hampir setiap kali terjadi dalam hidup kita? Kita orang-orang tegar tengkuk, tidak tahu berterima kasih, dan kita penyembah berhala. Tetapi thx God, Allah menyatakan diri-Nya sebagai Allah yang selalu hadir. Hadir ketika kita setia atau tidak setia, Allah yang selalu mengasihi kita dimanapun kita dan dalam keadaan apapun kita. Dia Allah yang peduli dan memperhatikan kita, bahkan ketika kita tidak taat, tidak mempedulikan Dia dan bahkan meninggalkan Dia. Dialah Allah yang selalu berhasil menemukan kita dimanapun kita berada (karena Dia selalu mengikuti kita kemanapun kita beranjak). Pemazmur mengungkapkan kesetiaan-Nya yang luar biasa “Kemanakah aku dapat pergi menjauhi Roh-Mu Tuhan… ketika aku mendaki ke langit… bahkan sampai ke ujung laut, Engkau selalu ada.” Itulah Allah kita, Jehova Shamma, Allah yang selalu ada. Allah yang tidak akan pernah meninggalkan kita… bahkan Allah berjanji untuk memulihkan hidup kita. Ketika kehidupan kita yang lama sudah dihancurkan, Allah berjanji untuk memberikan hati yang baru dan perjanjian yang baru (Yehezkiel 36:26) melalui Yesus Kristus.

Seberapa berdosanya diri kita saat ini dihadapan Allah, seberapa terpuruknya hidup kita karena ketidak-taatan kita, seberapa kesepian dan terlukanya kita akibat kita meninggalkan Dia, seberapa sibuk dan lelahnya kita karena kekhawatiran dan pergumulan kita – ingatlah selalu Jehova Shamma. Dia selalu hadir di manapun kita ada. Dia selalu disana untuk kita. Dia selalu siaga untuk memberi perlindungan dan pertolongan bagi kita. Berpalinglah… pandanglah pada-Nya yang dengan setia menanti untuk memeluk dan membawa kita pulang. Karena Dia Jehova Shamma yang selalu ada bagi kita. Amin

post by: andre

Comments No Comments »

Preview

Untuk membiayai Roma menjadi dunia yang besar, orang-orang Roma mewajibkan pajak yang tinggi pada orang2 Yahudi. Orang Yahudi sebenarnya tidak mau membayar pajak karena orang-orang Roma adalah bangsa yang menyembah berhala, akan tetapi karena mereka di jajah oleh orang Roma mereka terpaksa membayar pajak. Penagih pajak adalah seorang yang sangat disisihkan di kalangan orang Yahudi. Penagih pajak adalah orang-orang yang memilih untuk bekerja bagi pemerintahan Roma dan bagi orang Yahudi pekerjaan itu dianggap sebagai pekerjaan yang sangat tidak terhormat.Di samping itu banyak pengumpul pajak yang membuat dirinya semakin dibenci dengan cara berbuat tidak jujur untuk memperkaya dirinya. Zakheus adalah salah satunya. Zakheus adalah orang yang sedemikian dipandang rendah oleh orang-orang Yahudi. Zakheus adalah orang yang disisihkan dan tidak aneh apabila orang-orang bersungut-sungut ketika Yesus mau singgah di rumahnya.

Insight

Persahabatan Doraemon dan Nobita diakhiri dengan cerita yang mengharukan. Edisi terakhir yang beredar di internet menceritakan bagaimana Doraemon kehabisan batere dan hal ini akan menyebabkan Doraemon akan kehilangan ingatannya sama sekali. Nobita sangat sedih sehingga Nobita bertekad untuk belajar agar dia bisa memperbaiki doraemon. Rupanya tekadnya membuahkan hasil, Nobita tumbuh menjadi seorang professor robot paling jenius. Dan rupanya Nobitalah yang menciptakan Doraemon. Kehadiran Doraemon di dihidup Nobita telah mengubah hidupnya. Nobita yang bodoh dan malas berubah menjadi Nobita yang pintar dan tekun. Mengapa perubahan itu terjadi? Ada pengalaman kasih yang pernah Nobita dan Doraemon alami. Demikian juga hal itu terjadi dalam kehidupan Zakheus. Singgah di rumah Zakheus bagi Yesus berarti singgah di hidupnya, memulihkan hidup zakheus, dan membawa Zakheus untuk hidup lebih baik. Zakheus mungkin seorang yang mengalami banyak luka hati. Orang-orang membencinya atas apa yang dikerjakannya. Dalam hatinya mungkin Zakheus berpikir hidup ini tidak adil. Ia melakukan perbuatan baik atau tidak baik orang-orang akan tetap membencinya. Akhirnya kedagingan membawa Zakheus pada pilihan untuk hidup tidak baik. Ia memilih untuk menipu orang, menindas orang, dan mengambil keuntungan dari posisinya sebagai pengumpul pajak (toh… ga ada bedanya kalau jujur atau ga jujur juga tetep dibenci). Tapi hari itu Zakheus dipanggil Tuhan. Untuk sesaat Zakheus disinggahi oleh Yesus dan itu mengubah segalanya. Kasih Yesus menjamah dia (akhirnya dia merasa namanya dicintai orang dengan tulus). Kepercayaan Yesus terhadap hidupnya membuat dia merasa begitu dihargai sebagai manusia. Percakapan dengan Yesus membuatnya merasa memiliki seorang teman (setelah seumur hidup dia kesepian). Dan… setelah bertemu dengan Yesus hidupnya tidak lagi sama. Zakheus berubah menjadi orang yang luar biasa murah hati. Gaya hidup Zakheus yang mementingkan diri berubah menjadi murah hati (bahkan sangat murah hati). Inilah pertobatan yang sejati. Ada perubahan dari dalam yang membuat seluruh tingkah laku berubah 180 derajat. Zakheus mengalami kemurahan Allah dan ia ingin menjadi seperti Allahnya yang begitu murah hati. Bukankah demikian yang seharusnya terjadi dalam kehidupan kita? Dalam mengikut Tuhan tidak cukup hanya di kepala atau di hati saja. Pasti ada kekuatan yang mengubah tingkah laku hidup kita. Apakah pertemuan kita dengan Yesus sudah mengubah hidup kita?

Application

How about us? Berapa lama kita sudah ikut Tuhan dan seberapa perubahan yang sudah kita lakukan (dalam cara pikir, cara melayani Tuhan, cara melayani sesama)?

“Aku percaya pada pembenaran oleh anugerah melalui iman, tetapi aku tidak percaya bahwa iman yang membenarkan dapat membuat orang tidak diubahkan secara radikal oleh Yesus. Yang berhak untuk mengatakan bahwa ia dibenarkan oleh anugerah semata adalah orang yang telah meninggalkan segalanya dan mengikut Yesus. (Dietrich Bonhoeffer, martir yang digantung pada usia 39 tahun).”

post by:andre

Comments No Comments »